Pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan dan Sulawesi menjadi salah satu pekerjaan yang menuntut pengerahan tenaga besar dari PT Brantas Abipraya (Persero). Untuk mengejar target penyelesaian, perusahaan mengirim 2.500 pekerja asal Pulau Jawa ke sejumlah titik proyek yang berjalan secara bersamaan.
Langkah ini dipilih karena kebutuhan lapangan memang tinggi dan tidak bisa dihadapi dengan pola kerja biasa. Setiap lokasi pembangunan memerlukan banyak tenaga sekaligus agar progres tetap bergerak meski medan dan cuaca menjadi tantangan tersendiri.
Di sisi operasional, Brantas Abipraya menempatkan para pekerja itu sebagai bagian dari strategi percepatan. Dengan jumlah proyek yang dikerjakan serentak, perusahaan perlu menjaga laju pekerjaan tetap stabil di berbagai lokasi tanpa kehilangan kendali atas koordinasi tim.
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, menjelaskan bahwa satu titik proyek bisa menyerap 400 hingga 600 pekerja. Ia juga menuturkan bahwa aktivitas di lapangan dijalankan bergantian pada siang dan malam agar proses pembangunan tidak terhenti.
“Di lapangan, percepatan proyek didukung oleh ratusan tenaga kerja yang bekerja tanpa mengenal waktu. Dalam satu lokasi, jumlah pekerja dapat mencapai 400 hingga 600 orang yang bekerja secara bergantian siang dan malam demi memastikan target nasional dapat tercapai,” kata Dian Sovana.
Skala pengerjaan tersebut menunjukkan bahwa proyek Sekolah Rakyat memiliki kompleksitas yang berbeda dari pekerjaan konstruksi umum. Pada saat yang sama, perusahaan harus memastikan komunikasi antartim tetap rapi di setiap titik agar ritme kerja tidak terganggu.
Kecepatan harus tetap sejalan dengan mutu
Brantas Abipraya menegaskan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh membuat kualitas bangunan turun. Karena itu, pengawasan teknis dilakukan secara ketat pada setiap tahap pekerjaan agar seluruh proses tetap mengikuti standar yang berlaku.
Selain pengawasan mutu, perusahaan juga menaruh perhatian besar pada penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3. Langkah ini penting karena lokasi proyek berada di wilayah yang menuntut kesiapan fisik tinggi, ketertiban kerja, dan pengelolaan lapangan yang disiplin.
Dian menilai dedikasi pekerja menjadi elemen penting yang menentukan capaian proyek. “Dedikasi dan kerja keras para pekerja merupakan kunci utama di balik setiap progres pembangunan Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Hambatan lapangan tidak mengendurkan komitmen
Pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan dan Sulawesi tetap harus berhadapan dengan hambatan cuaca buruk dan urusan logistik. Meski begitu, perusahaan menyatakan komitmen menyelesaikan pekerjaan tetap kuat karena proyek ini membawa manfaat sosial yang luas.
Sekolah Rakyat tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai upaya memperluas akses pendidikan di daerah. Kehadiran fasilitas itu diharapkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat dan membuka peluang belajar yang lebih luas.
“Proyek Sekolah Rakyat ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang dalam mencetak generasi unggul Indonesia. Kami berkomitmen mengebut penyelesaian proyek ini,” kata Dian Sovana.
Rasa bangga dari para pekerja
Pengerahan tenaga dalam jumlah besar juga menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi pekerja di lapangan. Budi, pekerja asal Lamongan, Jawa Timur, mengaku senang bisa ikut terlibat dalam pembangunan fasilitas pendidikan di luar pulau asalnya.
“Walaupun jauh dari keluarga, saya bangga karena ini bukan sekadar pekerjaan, tapi kontribusi untuk masa depan mereka dan anak-anak Indonesia,” ungkap Budi.
Baginya, pembangunan sekolah punya nilai sosial yang kuat karena hasilnya akan dirasakan banyak orang. Kehadiran warga sekitar, terutama anak-anak yang melihat aktivitas konstruksi, juga membuat proyek ini semakin mendapat perhatian di lingkungan setempat.
Mobilisasi 2.500 pekerja itu menjadi bagian penting dari upaya Brantas Abipraya untuk mempercepat tersedianya fasilitas pendidikan di Kalimantan dan Sulawesi. Di tengah tekanan target, perusahaan tetap menjaga agar mutu, keselamatan kerja, dan manfaat jangka panjang bagi daerah tetap menjadi bagian dari pekerjaan yang dijalankan.





