16 WNI Tewas Di Malaysia, KBRI Kuala Lumpur Percepat Identifikasi Lewat DNA

Identifikasi 16 korban WNI dalam insiden kapal di perairan Perak, Malaysia, kini menjadi fokus utama yang dikebut KBRI Kuala Lumpur. Proses ini dijalankan bersama berbagai pihak agar identitas para korban dapat dipastikan dengan lebih akurat, termasuk melalui kecocokan DNA keluarga.

Langkah tersebut dilakukan setelah KBRI menerima informasi awal terkait insiden yang melibatkan WNI sejak 11 Mei. Sejak saat itu, KBRI bergerak cepat berkoordinasi dengan Polis Diraja Malaysia, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia, IPK Perak, IPD Manjung, Jabatan Kesehatan Masyarakat, serta Rumah Sakit Teluk Intan.

Akses ke penyintas dan perlindungan konsuler

Selain pencarian dan pendataan korban, KBRI juga menempatkan akses kekonsuleran sebagai bagian penting dalam penanganan kasus ini. Perlindungan kemanusiaan bagi WNI yang terdampak disebut tetap menjadi prioritas selama proses berjalan.

Sejauh ini, KBRI telah mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan 18 WNI yang selamat. Pertemuan itu digunakan untuk memverifikasi identitas, menggali informasi tambahan, dan memeriksa kondisi mereka secara langsung.

Berdasarkan identifikasi awal, para WNI yang selamat berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. KBRI menyampaikan bahwa seluruh WNI yang selamat berada dalam kondisi baik dan sehat.

Lima WNI masih diperiksa pihak Malaysia

Di sisi lain, lima WNI lainnya masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh PDRM. Pemeriksaan itu dilakukan karena mereka diduga terkait dengan tindak pengiriman migran ilegal.

KBRI Kuala Lumpur menyebut proses penanganan tetap berjalan sambil menunggu hasil pemeriksaan aparat Malaysia. Selama periode ini, perkembangan kasus terus dipantau agar hak-hak para WNI tetap terlindungi.

DNA keluarga dipakai untuk mempercepat identifikasi

Dari koordinasi dengan Rumah Sakit Teluk Intan, jumlah WNI yang meninggal dunia dalam insiden itu telah terkonfirmasi sebanyak 16 orang. Data tersebut menjadi dasar untuk mempercepat proses identifikasi korban secara lebih akurat.

Untuk mempercepat verifikasi, KBRI Kuala Lumpur bekerja sama dengan Polri dalam penelusuran keluarga korban. Langkah ini juga mencakup pengambilan sampel DNA dari keluarga WNI yang diduga berkaitan dengan korban meninggal dunia.

Upaya itu dianggap penting karena identifikasi korban tidak hanya bergantung pada data awal di lapangan. Kecocokan data keluarga dan sampel biologis menjadi bagian dari verifikasi yang diperlukan dalam penanganan jenazah.

Komunikasi dengan keluarga tetap dibuka

Pemerintah Indonesia melalui KBRI Kuala Lumpur memastikan pemantauan kasus akan terus dilakukan secara intensif. Komunikasi dengan keluarga korban juga dijaga agar perkembangan terbaru dapat disampaikan dengan cepat dan jelas.

KBRI meminta masyarakat yang merasa memiliki anggota keluarga terkait insiden tersebut, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, untuk menghubungi Hotline Pelindungan KBRI Kuala Lumpur di nomor +60 17-668 8032. Jalur komunikasi ini disiapkan untuk mendukung percepatan penanganan korban dan membantu proses identifikasi dengan data keluarga yang memadai.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version