Lapisan Dalam Matahari Ternyata Bergerak Tak Biasa, Ancaman Cuaca Antariksa Meningkat

Bumi tidak hanya menghadapi aktivitas Matahari yang tampak di permukaannya. Yang ikut diawasi para astronom sekarang justru perubahan yang terjadi di bagian dalam, karena di sanalah petunjuk tentang kekuatan energi magnetik Matahari mulai terlihat bergeser.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa “detak jantung” Matahari tidak lagi mengikuti pola yang selama ini dipahami. Perubahan itu terungkap lewat analisis hampir 40 tahun data gelombang suara di dalam Matahari, dan hasilnya mengisyaratkan bahwa cuaca antariksa yang memengaruhi Bumi perlu dibaca dengan cara yang lebih hati-hati.

Gelombang suara membuka isi Matahari

Gelombang suara yang merambat di dalam Matahari bekerja seperti alat pemindai alami. Dari getaran itu, peneliti bisa membaca kondisi interior Matahari tanpa harus melihat langsung ke bagian dalamnya.

Dengan cara ini, para ilmuwan menemukan bahwa pengukuran dari permukaan saja tidak selalu cukup. Aktivitas yang terlihat di lapisan bercahaya bisa memberi kesan yang berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi jauh di dalam.

Profesor Bill Chaplin dari Universitas Birmingham, Inggris, menjelaskan bahwa ritme alami Matahari mengatur periode aktivitas magnetiknya. Namun, pengukuran tradisional di permukaan, menurut dia, kemungkinan tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan yang sedang terjadi di bagian yang lebih dalam.

Data panjang dari BiSON menunjukkan perubahan pola

Penelitian ini memakai data yang dikumpulkan antara 1987 hingga 2025 melalui enam teleskop dalam jaringan Birmingham Solar Oscillations Network atau BiSON. Jaringan tersebut merekam perubahan sangat kecil pada frekuensi osilasi Matahari selama beberapa siklus aktivitasnya.

Dari pengamatan panjang itu, peneliti melihat tanda perubahan yang signifikan sejak Siklus Matahari ke-23. Hubungan antara getaran internal dan aktivitas yang tampak di permukaan tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Salah satu temuan yang paling menonjol adalah medan magnet Matahari tampaknya semakin tertekan ke lapisan yang lebih dekat ke fotosfer. Kondisi itu membuat apa yang terbaca dari permukaan berbeda dari aktivitas yang benar-benar berlangsung di bagian dalam.

Bukan sekadar melemah, tetapi bergeser di dalam

Tim peneliti menilai perubahan ini tidak cukup dijelaskan hanya sebagai pelemahan medan magnet. Mereka melihat kemungkinan adanya reorganisasi besar dalam penyimpanan dan distribusi energi magnetik di interior Matahari.

Karena itu, istilah “detak jantung” Matahari dipakai untuk menggambarkan perubahan ritme alami aktivitas magnetik dan osilasi di bintang pusat tata surya tersebut. Pergeseran ritme ini menandakan bahwa dinamika di dalam Matahari sedang bergerak ke pola baru.

Perubahan tersebut juga membantu menjelaskan kenapa Siklus Matahari ke-25 terlihat relatif normal bila diamati dari permukaan. Akan tetapi, berdasarkan data seismik atau getaran internal, aktivitasnya justru dinilai lebih kuat.

Dampaknya dekat dengan kehidupan modern di Bumi

Perhatian terhadap perubahan ini tidak berhenti di ranah akademis. Aktivitas Matahari berpengaruh langsung pada cuaca antariksa, dan efeknya dapat menjalar ke teknologi yang dipakai di Bumi.

Badai geomagnetik yang dipicu aktivitas Matahari bisa mengganggu satelit, sistem navigasi GPS, jaringan komunikasi, hingga infrastruktur kelistrikan. Karena itu, perubahan struktur internal Matahari menjadi isu penting bagi para peneliti.

Pemantauan terhadap Siklus Matahari ke-25 masih terus dilakukan. Para peneliti juga menunggu Siklus ke-26 yang diperkirakan dimulai sekitar tahun 2030 untuk melihat apakah pola ini akan berlanjut atau hanya menjadi anomali sementara.

Hasil studi tersebut telah dimuat dalam jurnal ilmiah Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Temuan itu menegaskan bahwa untuk memahami ancaman cuaca antariksa, Matahari perlu dibaca bukan hanya dari permukaannya, tetapi juga dari denyut di dalamnya.

Source: www.suara.com
Exit mobile version