Dengan harga awal sekitar 399.800 yuan atau setara Rp1 miliaran, Xpeng GX langsung masuk ke kelompok SUV listrik premium yang tidak bermain di pasar biasa. Posisi itu makin kuat karena model ini disebut sebagai produk termahal yang pernah ditawarkan Xpeng, bahkan melampaui X9.
Panggung utama Xpeng GX bukan hanya soal banderol. SUV full-size ini juga membawa paket teknologi yang menempatkannya di kelas berbeda, termasuk kemampuan berkendara otonom hingga level 4 dalam situasi tertentu.
SUV besar untuk pasar atas
Xpeng GX dirancang sebagai SUV berukuran besar dengan target pembeli yang mengutamakan ruang kabin, teknologi tinggi, dan penggunaan yang fleksibel. Dimensinya menunjukkan arah tersebut lewat panjang 5.265 mm, lebar 1.999 mm, dan tinggi 1.800 mm.
Karakter itu membuat GX lebih dekat ke pasar premium dibanding sekadar menjadi tambahan baru di lini kendaraan listrik Xpeng. Kehadiran model ini memperlihatkan dorongan merek tersebut untuk masuk lebih dalam ke segmen atas.
Minat terhadap mobil ini juga sudah muncul sebelum peluncuran resmi. Xpeng telah membuka pre-order di Tiongkok sejak 15 April 2026, sehingga calon pembeli bisa lebih dulu mengamankan unitnya.
Dua pilihan penggerak
Di balik status flagship, Xpeng GX disiapkan dengan dua opsi sistem penggerak. Pilihannya adalah battery electric vehicle atau BEV serta extended range electric vehicle atau EREV.
Kombinasi itu memberi ruang bagi konsumen yang mencari kendaraan listrik murni maupun yang membutuhkan jarak tempuh lebih panjang. Dalam kelas SUV premium, fleksibilitas seperti ini menjadi nilai penting selain harga dan teknologi.
Strategi tersebut menunjukkan Xpeng tidak hanya mengejar citra mewah. Pabrikan ini juga mencoba menjangkau kebutuhan penggunaan harian dan perjalanan jauh dalam satu model.
Platform baru dan fokus otonom
Secara teknis, Xpeng GX berdiri di atas platform terbaru perusahaan, SEPA 3.0 atau Smart Electric Platform Architecture. Arsitektur ini dirancang agar mobil listrik bekerja lebih efisien sekaligus siap menopang teknologi berkendara otonom.
Sorotan terbesar ada pada kemampuan otonom hingga level 4. Dengan dukungan itu, kendaraan disebut dapat berjalan sendiri dalam situasi tertentu tanpa harus selalu dikendalikan penuh oleh pengemudi.
Arah pengembangan ini menegaskan bahwa GX bukan sekadar SUV listrik besar. Xpeng tampak ingin mempertemukan perangkat lunak, komputasi, dan fungsi otonom dalam satu produk flagship.
Tiga chip AI dan dukungan VLA
Xpeng juga membekali GX dengan tiga chip AI Turing hasil pengembangan internal. Susunan ini ditujukan untuk memproses data secara cepat dan kompleks agar sistem kendaraan dapat membaca kondisi sekitar dengan lebih cerdas.
Selain itu, ada dukungan AI berbasis Vision-Language-Action atau VLA. Teknologi ini dirancang supaya interaksi antara pengemudi dan kendaraan terasa lebih natural, mudah, dan responsif.
Di dalam kabin, Xpeng menampilkan nuansa modern dan canggih yang sejalan dengan citra premiumnya. Perpaduan itu membuat GX tidak hanya menonjol karena ukuran dan harga, tetapi juga karena paket teknologi yang dibawanya.
Xpeng sebelumnya juga memberi sinyal lewat media sosial bahwa acara perkenalan akan segera digelar. Arah sinyal itu kini tertuju pada jadwal peluncuran 20 Mei 2026, yang akan menjadi ujian penting bagi GX di kelas atas.
Source: kabaroto.com




