WHO Peringatkan Ebola Di Kongo Dan Uganda Bisa Merambah Kota Padat, Kasus Terus Bertambah

Ancaman terbesar dari wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda bukan hanya jumlah kasus yang terus bertambah, tetapi juga kemampuan virus itu bergerak di tengah wilayah yang sulit dijangkau. Dalam situasi keamanan yang rapuh, petugas kesehatan kesulitan masuk ke area tempat ratusan ribu warga mengungsi, sementara penularan kini tidak lagi terbatas pada daerah terpencil.

WHO menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena kasus sudah ditemukan di wilayah perkotaan dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Kampala, Goma, dan Bunia menjadi titik perhatian utama karena potensi penyebaran bisa meluas lebih cepat di kawasan padat dan saling terhubung.

Kasus di kota membuat pengendalian jauh lebih sulit

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan lebih dari 130 kematian diduga terkait wabah ini dan lebih dari 500 kasus suspek telah dilaporkan. Ia menetapkan wabah tersebut sebagai public health emergency of international concern pada Sabtu, bahkan sebelum komite darurat dikumpulkan.

Ia juga menyoroti tanda-tanda penularan di fasilitas layanan kesehatan setelah kematian dilaporkan di kalangan tenaga kesehatan. Kondisi itu membuat rantai penyebaran tidak lagi hanya bergerak di komunitas tertentu, tetapi sudah masuk ke lingkungan pelayanan medis.

Konflik, pengungsian, dan keterbatasan bantuan memperburuk situasi

Di provinsi Ituri, tempat virus pertama kali terdeteksi pada awal Mei, konflik meningkat selama dua bulan terakhir. Lebih dari 100.000 orang baru saja mengungsi, sehingga pergerakan penduduk dalam jumlah besar ikut meningkatkan risiko wabah menyebar ke wilayah lain.

Pejabat kesehatan regional menilai perang berkepanjangan, pemangkasan bantuan, dan malnutrisi akut telah menghambat respons di lapangan. Mereka kini berhadapan dengan wabah yang menyebar di komunitas-komunitas Ituri, sementara akses ke layanan kesehatan di daerah terpencil tetap sangat terbatas.

Philippe Guiton dari World Vision di DRC mengatakan anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena sudah terdampak konflik dan bantuan kemanusiaan masih kurang. David Munkley, direktur zona timur World Vision, menambahkan bahwa malnutrisi akut di Ituri melemahkan sistem imun warga.

UNHCR menyebut 11.000 pengungsi Sudan Selatan di Ituri membutuhkan bantuan pencegahan. Di North Kivu, lebih dari 2.000 pengungsi Rwanda dan Burundi di kota Goma yang dikuasai kelompok pemberontak juga memerlukan pasokan sanitasi.

Strain Bundibugyo belum memiliki vaksin

Wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, jenis Ebola yang menurut WHO belum memiliki vaksin atau terapi. Tingkat fatalitas Ebola rata-rata sekitar 50 persen, dan penularannya terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Virus juga bisa menyebar lewat benda yang terkontaminasi atau kontak dengan jenazah penderita Ebola. Gejalanya meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, nyeri perut, serta gangguan fungsi ginjal dan hati.

Pada sebagian pasien, perdarahan internal dan eksternal dapat muncul, termasuk darah dari gusi dan darah di tinja. Hingga kini belum ada perawatan atau vaksin yang disetujui khusus untuk virus Bundibugyo.

Deteksi awal sempat melambat

WHO menyebut dugaan kasus pertama muncul pada pekerja kesehatan yang mulai bergejala pada 24 April. Orang itu kemudian meninggal di sebuah pusat medis di Bunia, ibu kota provinsi Ituri.

Pada 5 Mei, WHO menerima peringatan soal penyakit tak dikenal dengan tingkat kematian tinggi di provinsi itu. Setelah tim respons cepat menyelidiki pada 13 Mei, wabah dikonfirmasi sebagai virus Bundibugyo pada 15 Mei.

Perwakilan WHO di DRC, Anne Ancia, mengatakan deteksi awal sempat melambat karena tes lokal di Bunia menunjukkan hasil negatif untuk strain Zaire yang lebih umum. US CDC menyebut sidik genetik wabah ini mirip dengan wabah pada 2007 dan 2012, sehingga petugas medis memiliki peralatan diagnostik untuk mendeteksi strain tersebut.

Kekhawatiran kasus sebenarnya lebih tinggi

Sejumlah pihak mempertanyakan apakah otoritas terlambat menemukan dan melacak kasus awal setelah beberapa wabah Ebola dalam beberapa tahun terakhir. Wabah terbesar terjadi di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016, ketika 11.325 orang meninggal dan lebih dari 28.600 orang terinfeksi menurut WHO.

Jeremy Konyndyk, mantan pimpinan respons Covid dan bantuan bencana di USAID, menilai beberapa generasi penularan kemungkinan lolos dari deteksi sebelum wabah dikonfirmasi. Dr. Craig Spencer, dokter yang pernah selamat dari infeksi Ebola pada 2014, juga menilai jumlah kasus sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari yang saat ini dilaporkan.

Tedros menegaskan bahwa kasus di kawasan perkotaan, penularan di fasilitas kesehatan, pergerakan besar penduduk, dan ketiadaan vaksin untuk strain Bundibugyo membuat wabah ini harus dipandang sangat serius. Di tengah situasi keamanan yang rapuh, fokus utama kini tetap sama: menghentikan penularan sebelum menjangkau lebih banyak wilayah dan lebih banyak korban.

Exit mobile version