Wayang Di Uang Kolonial Ternyata Bukan Hiasan, Ada Strategi Kuasa Di Baliknya

Uang kertas sering dipandang hanya sebagai alat bayar, tetapi koleksi yang kini dibaca ulang oleh Museum Bank Indonesia menunjukkan hal yang lebih rumit. Pada seri uang bergambar wayang terbitan De Javasche Bank, ada jejak budaya, politik, dan cara kekuasaan membentuk penerimaan publik.

Pameran temporer In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi membuka ruang untuk melihat uang sebagai arsip visual yang menyimpan cerita zamannya. Pameran ini berlangsung pada 3 Juni hingga 30 Agustus 2026 dan menempatkan seri wayang sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana simbol budaya pernah dipakai di tengah situasi kolonial.

Wayang sebagai wajah yang akrab di uang kolonial

Di ruang pamer, Museum Bank Indonesia menampilkan delapan nominal lengkap uang De Javasche Bank seri wayang, mulai dari 5 hingga 1.000 gulden. Koleksi itu dilengkapi replika uang untuk kebutuhan edukasi agar detail bentuk dan tampilannya lebih mudah dipelajari pengunjung.

Susunan tersebut juga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk membandingkan seri wayang dengan uang Hindia Belanda sebelum periode itu dan mata uang pendudukan Jepang. Dari perbandingan itu, terlihat bahwa simbol budaya tidak hadir dengan fungsi yang sama di setiap masa sejarah.

Kurator pameran, Ide Nada Imandiharja, menjelaskan bahwa pameran temporer di Museum Bank Indonesia memang dibuat lebih fokus daripada pameran permanen. Jika pameran permanen memuat sejarah kelembagaan, arsitektur, dan koleksi numismatik secara umum, pameran temporer diarahkan untuk mengulas satu tema secara lebih mendalam.

Mengapa gambar wayang dipilih

Penelitian museum menunjukkan bahwa penggunaan wayang pada uang De Javasche Bank berkaitan dengan minat Presiden DJB, L.C.J. Burting Houwink, terhadap budaya Nusantara dan seni wayang. Houwink juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, yang diduga ikut mendorong hadirnya figur wayang pada uang tersebut.

Namun, pemilihan itu tidak berhenti pada selera pribadi. Seri wayang terbit pada masa krisis ekonomi dan gejolak sosial pada dekade 1930-an, sehingga desain uang ikut membawa beban situasi yang lebih luas.

Dalam konteks itu, wayang dipakai sebagai sarana propaganda karena dianggap sebagai bagian penting dari budaya yang sudah akrab di tengah masyarakat. Simbol ini dinilai mudah dikenali dan dekat dengan publik, sehingga dapat membantu mendorong penerimaan terhadap uang yang diedarkan.

Ide menegaskan bahwa kedekatan itu menjadi alasan penting bagi pemilihan tema tersebut. “Wayang sangat dekat dengan masyarakat pada masa itu. Karena itu, kemunculannya di uang dapat menjadi daya tarik agar masyarakat mau menggunakan uang tersebut,” kata Ide.

Uang sebagai alat komunikasi kekuasaan

Pameran ini juga menghubungkan seri wayang dengan penggunaan simbol budaya pada masa pendudukan Jepang. Kehadiran mata uang pendudukan Jepang memperlihatkan bahwa praktik memanfaatkan tanda-tanda visual untuk mendekati masyarakat tidak berhenti pada era De Javasche Bank.

Pada awalnya, Jepang sempat memakai gambar pemandangan umum Asia Tenggara pada mata uang yang diedarkan di wilayah jajahannya. Setelah itu, mereka mulai menampilkan simbol budaya Nusantara seperti Gatotkaca, rumah adat, dan figur masyarakat daerah untuk mendekatkan diri kepada penduduk setempat.

Rangkaian koleksi itu menegaskan bahwa uang sering dipakai untuk membangun kedekatan simbolik dengan masyarakat. Dalam kerangka sejarah, desain uang dapat memperlihatkan hubungan kuasa, identitas budaya, dan strategi komunikasi politik pada zamannya.

Melalui In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi, museum mengajak publik membaca ulang lembar uang sebagai benda yang memuat lebih dari nilai nominal. Ide menyebut bahwa inti pameran ini adalah menunjukkan bahwa setiap uang menyimpan cerita, termasuk cerita tentang sejarah, budaya, dan kepentingan politik dalam satu objek kecil yang kerap luput dari perhatian.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button