Kemampuan parkit rosella untuk bertahan di banyak jenis lingkungan sering kali lebih menarik daripada warna tubuhnya yang mencolok. Burung asal Australia ini tidak hanya hadir di hutan terbuka, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan lahan pertanian, taman kota, hingga lapangan golf.
Adaptasi itu membuat parkit rosella tetap mudah dijumpai di berbagai lanskap. Meski hidup di area yang makin terbuka, burung ini tetap bergantung pada pohon untuk bersarang dan pada ketersediaan air yang cukup.
Di habitat aslinya, parkit rosella dikenal aktif, cerdas, dan memiliki suara kicauan yang khas. Sifat tersebut berpadu dengan penampilan yang kontras, sehingga spesies ini menonjol di antara burung paruh bengkok lain.
Warna tubuh parkit rosella menjadi ciri yang paling mudah dikenali. Bagian kepala hingga dada atas berwarna merah, pipinya putih, lalu tubuh bagian bawah memadukan kuning dan hijau dengan punggung berpola hitam bertepi kuning kehijauan.
Sayapnya berwarna biru terang, sedangkan ekornya panjang dengan kombinasi hijau tua dan biru muda. Pada umumnya, jantan tampak lebih terang dibandingkan betina.
Perbedaan juga terlihat pada burung yang belum dewasa. Individu muda cenderung lebih pudar dengan dominasi hijau, sementara paruhnya masih kuning atau oranye.
Saat memasuki usia dewasa, paruh parkit rosella berubah menjadi putih gading. Beberapa betina dan burung muda juga memiliki garis putih di bawah sayap yang tampak jelas ketika terbang.
Sebaran parkit rosella cukup luas di tenggara Australia. Wilayah persebarannya mencakup Queensland hingga Australia Selatan dan Tasmania.
Burung ini juga diperkenalkan ke Selandia Baru dan berkembang biak di sana sejak awal abad ke-20. Kini populasinya banyak ditemukan di Pulau Utara dan sebagian Pulau Selatan, meski di beberapa tempat dianggap mengganggu karena memakan hasil pertanian.
Soal makan, parkit rosella tergolong pemakan tumbuhan. Menu alaminya mencakup biji-bijian, buah, kuncup bunga, nektar, dan terkadang serangga kecil.
Tercatat ada lebih dari 80 jenis tanaman yang menjadi sumber makanannya. Sebagian besar asupan berasal dari biji-bijian, disusul tunas pohon dan buah-buahan, sehingga burung ini bisa memanfaatkan makanan yang tersedia di sekitarnya.
Kebiasaan mencari makan di tanah juga menjadi salah satu perilaku khasnya. Parkit rosella sering berjalan di area rumput terbuka untuk memungut biji yang jatuh, lalu memakai kaki untuk memegang makanan saat makan.
Dalam urusan berkembang biak, burung ini dikenal setia pada satu pasangan. Musim berkembang biak biasanya berlangsung antara Agustus hingga Februari.
Betina bertugas mencari dan menyiapkan lubang pohon untuk tempat bertelur. Saat telur dierami, jantan mengambil peran mencari makan untuk betina.
Sekali bertelur, jumlahnya berkisar 4 hingga 9 butir. Telur itu menetas setelah sekitar 19 hari, lalu anak burung mulai keluar dari sarang saat berumur sekitar satu bulan dan masih dibantu induknya selama beberapa minggu.
Secara global, parkit rosella berada dalam kategori risiko rendah menurut IUCN. Status itu didukung oleh persebarannya yang luas dan jumlah yang cenderung meningkat.
Namun, tekanan lokal tetap muncul di sejumlah wilayah. Di Sydney, populasinya dilaporkan menurun akibat pembangunan permukiman, sementara ancaman lain datang dari persaingan tempat bersarang, serangan kucing, dan risiko penularan virus burung.
Source: www.idntimes.com




