Warna aurora tidak muncul begitu saja, melainkan dari cara partikel Matahari berinteraksi dengan gas di atmosfer atas Bumi. Justru dari proses itulah langit kutub bisa menampilkan hijau, merah, biru, ungu, kuning, hingga pink dalam satu fenomena yang sama.
Banyak orang mengira aurora hanya punya satu warna khas, padahal warna yang terlihat menyimpan petunjuk penting. Dari warna itu, dapat diketahui gas apa yang bereaksi, seberapa tinggi interaksinya terjadi, dan seberapa kuat aktivitas Matahari saat itu.
Saat partikel berenergi dari Matahari melaju menuju Bumi, kecepatannya bisa mencapai 45 juta mph atau 72 juta kph. Medan magnet Bumi lalu mengarahkan partikel itu ke wilayah kutub utara dan selatan.
Begitu partikel bermuatan itu memasuki atmosfer, atom dan molekul gas akan terangsang. Saat kembali ke keadaan semula, gas-gas tersebut melepaskan energi dalam bentuk foton atau cahaya, mirip cara kerja lampu neon.
Warna aurora bergantung pada gas yang terlibat dalam tumbukan itu. Atmosfer Bumi sendiri didominasi sekitar 78 persen nitrogen dan 21 persen oksigen, dengan sisanya berupa argon, karbon dioksida, serta jumlah kecil neon, helium, metana, kripton, ozon, hidrogen, dan uap air.
Hijau yang paling mudah terlihat
Dari semua warna aurora, hijau memang paling sering muncul. Badan Antariksa Kanada atau CSA menjelaskan bahwa warna ini biasanya terbentuk saat partikel bermuatan bertabrakan dengan konsentrasi tinggi molekul oksigen pada ketinggian sekitar 60 hingga 190 mil atau 100 hingga 300 kilometer.
Hijau juga cenderung lebih menonjol bagi penglihatan manusia. Mata manusia paling sensitif terhadap spektrum hijau, sehingga aurora dengan warna ini sering tampak paling kuat dibanding warna lainnya.
Merah, biru, ungu, sampai pink
Aurora merah muncul lebih jarang dan biasanya berkaitan dengan aktivitas Matahari yang intens. Warna ini terbentuk saat partikel Matahari bereaksi dengan oksigen pada ketinggian lebih tinggi, umumnya sekitar 180 hingga 250 mil atau 300 hingga 400 kilometer.
Di lapisan yang lebih tinggi itu, oksigen lebih sedikit terkonsentrasi dan terstimulasi pada frekuensi atau panjang gelombang yang lebih tinggi. Karena itu, merah biasanya terlihat di bagian atas tampilan aurora.
Berbeda dengan merah, biru dan ungu termasuk warna yang paling langka. Keduanya cenderung muncul saat aktivitas Matahari tinggi dan terbentuk ketika partikel Matahari bertabrakan dengan nitrogen di atmosfer pada ketinggian 60 mil atau kurang.
Warna biru dan ungu umumnya terlihat di bagian bawah aurora. Kehadirannya membuat tampilan cahaya di langit tampak berlapis dan lebih kompleks.
Aurora kuning dan pink juga jarang terjadi. Keduanya biasanya terkait aktivitas Matahari yang tinggi dan muncul dari campuran aurora merah dengan aurora hijau atau biru.
Peran aktivitas Matahari yang terus berubah
Letusan Matahari dan ejeksi massa korona ikut memengaruhi intensitas, warna, dan frekuensi aurora. Saat aktivitas Matahari meningkat, Bumi menerima lebih banyak partikel, sehingga peluang munculnya aurora yang cerah dan beragam juga naik.
Aktivitas Matahari berfluktuasi dalam siklus 11 tahun, dan puncaknya disebut solar maxima. Aktivitas Matahari saat ini sedang meningkat dalam solar maximum yang diamati pada siklus Matahari ke-25.
Itulah sebabnya aurora tidak selalu tampil dengan pola yang sama. Kombinasi kondisi di Matahari dan komposisi gas di atmosfer Bumi membuat warnanya terus berubah, dari hijau yang paling umum hingga rona merah, biru, ungu, kuning, dan pink yang lebih jarang terlihat.
Source: www.idntimes.com




