VinFast Masih Tertekan Biaya Ekspansi, Target Impas Baru Muncul Pada 2027

VinFast kini menghadapi fase yang menuntut ketahanan finansial lebih besar dari sebelumnya. Di tengah ambisi memperluas jangkauan ke pasar internasional, perusahaan asal Vietnam itu masih mencatat kerugian yang membesar dan kembali menggeser target titik impas ke 2027.

Tekanan utama datang dari biaya ekspansi global yang belum menghasilkan penyeimbang sebanding. Laporan keuangan terbaru menunjukkan rugi VinFast mencapai 3,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,35 triliun, meski penjualan unitnya justru tumbuh dua kali lipat.

Ekspansi yang masih mahal

Perluasan bisnis ke berbagai negara menjadi salah satu faktor yang paling membebani keuangan VinFast. Langkah masuk ke sejumlah pasar luar negeri, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia, membutuhkan biaya distribusi, pembangunan infrastruktur, serta operasional yang besar.

Di saat yang sama, perusahaan tetap berupaya memperbesar skala produksi agar bisa lebih bersaing di pasar kendaraan listrik dunia. Namun strategi itu membuat arus kas tetap tertekan karena investasi untuk membangun pasar baru berjalan bersamaan dengan biaya produksi massal.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa lonjakan penjualan belum otomatis mengurangi kerugian. Volume yang naik memang memberi sinyal permintaan yang tumbuh, tetapi beban untuk ekspansi dan pengembangan kapasitas masih jauh lebih besar daripada manfaat jangka pendeknya.

Vietnam masih menjadi basis utama

Di tengah ekspansi luar negeri yang menyedot modal, pasar domestik tetap diposisikan sebagai fondasi penting. Chairman Vingroup sekaligus pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong, menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan pengiriman ratusan ribu unit mobil listrik dengan fokus utama pada Vietnam.

Arah itu menunjukkan bahwa pasar dalam negeri masih memegang peran besar dalam menopang pertumbuhan. Basis domestik dipandang penting untuk menjaga permintaan, memperkuat skala usaha, dan membantu perusahaan menahan tekanan dari biaya ekspansi internasional.

VinFast juga terus memperkuat posisinya di Vietnam melalui pengembangan infrastruktur pengisian daya dan hadirnya model kendaraan yang lebih terjangkau. Langkah tersebut diarahkan untuk membangun permintaan yang lebih stabil di pasar yang paling dekat dengan ekosistem perusahaan.

Dukungan dari ekosistem Vingroup

Vingroup ikut menyiapkan penguatan ekosistem melalui rencana penawaran saham perdana untuk unit taksi listrik Green SM. Vuong menegaskan pentingnya langkah itu dengan mengatakan, “IPO ini diharapkan akan memberikan nilai yang sangat besar bagi Vingroup.”

Rencana melantai di bursa tersebut dijadwalkan berlangsung pada paruh kedua 2028. Jika berjalan sesuai rencana, Green SM dapat menjadi bagian yang lebih kuat dalam rantai permintaan kendaraan listrik dalam grup, sekaligus mempererat integrasi bisnis di sekitar VinFast.

Strategi ini juga berkaitan dengan upaya menciptakan pasar internal yang lebih stabil. Dengan dukungan layanan taksi dan rental dalam ekosistem Vingroup, VinFast berupaya menjaga permintaan tetap hidup di tengah kompetisi yang ketat dan tekanan biaya yang belum mereda.

Target impas bergeser ke 2027

Manajemen VinFast melihat sejumlah analisis pasar memberi arah yang serupa terhadap prospek perusahaan. Juru bicara perusahaan menyebut, “Terdapat pandangan yang konsisten di seluruh analisis yang kami pantau bahwa titik impas laba kotor dapat tercapai sekitar tahun 2027-2028,” seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa efisiensi biaya dan peningkatan volume penjualan masih menjadi dua pekerjaan besar yang harus berjalan beriringan. Selama tekanan dari ekspansi global belum turun, VinFast tampaknya akan terus bergantung pada kombinasi pasar domestik yang kuat, pengembangan ekosistem internal, dan skala produksi yang lebih besar untuk mendekati titik impas.

Baca Juga

Back to top button