Tekanan pada rupiah kembali jadi perhatian utama pasar ketika nilai tukar spot bergerak ke Rp 17.604 per dolar Amerika Serikat pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan 75 poin atau 0,43 persen ini membuat pasar menyorot bukan hanya arah mata uang, tetapi juga ketahanan fiskal Indonesia di tengah utang pemerintah yang kian mendekati Rp 10.000 triliun.
Di saat sentimen global masih rapuh, pergerakan rupiah memang terlihat mudah berubah arah. Pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia, rupiah sempat menguat ke Rp 17.496 pada Rabu, 13 Mei, dari Rp 17.514 pada Selasa, 12 Mei.
Utang makin dekat ke batas psikologis
Sorotan lain datang dari posisi utang pemerintah yang per akhir Maret tercatat Rp 9.920,42 triliun. Angka itu naik Rp 282,52 triliun dibanding posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun, sehingga totalnya makin dekat ke batas psikologis Rp 10.000 triliun.
Meski nominalnya besar, pemerintah tetap menegaskan kondisi fiskal masih aman. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto tercatat 40,75 persen per akhir Maret, jauh di bawah batas aman 60 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa Menteri Keuangan menilai utang pemerintah tersebut masih dalam kondisi terkendali. Penilaian itu muncul di tengah kekhawatiran publik yang ikut meningkat seiring tekanan pada rupiah.
Pembiayaan negara masih bertumpu pada SBN
Struktur utang pemerintah masih didominasi Surat Berharga Negara. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan nilai SBN mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah per 31 Maret.
Komposisi itu menunjukkan pembiayaan negara masih sangat bergantung pada instrumen surat berharga. Dalam situasi seperti ini, kestabilan pasar keuangan ikut menentukan kemudahan pengelolaan utang dan kepercayaan investor.
Ibrahim juga menilai posisi utang Indonesia masih lebih rendah dibanding beberapa negara lain. Ia menyebut Singapura berada di level 180 persen terhadap PDB dan Malaysia berada di atas 60 persen terhadap PDB, sehingga Indonesia dinilai masih mengelola utang secara cermat dan terukur.
Bank Indonesia terus meredam gejolak
Di sisi nilai tukar, Bank Indonesia masih aktif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar off-shore atau Non Deliverable Forward. Langkah itu dilakukan berkesinambungan di pasar New York, Asia, dan Eropa untuk menahan tekanan dari faktor luar negeri.
Bank sentral juga disebut akan memperkuat intervensi di pasar domestik sejak pembukaan 18 Mei. Instrumen yang digunakan mencakup pasar valas, baik spot maupun DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Langkah tersebut penting karena rupiah masih berayun dan sensitif terhadap perubahan sentimen global. Pergerakan yang cepat dari penguatan ke pelemahan menunjukkan pasar belum menemukan pegangan yang stabil.
Tekanan eksternal belum mereda
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi. Sentimen pasar tetap rapuh setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.
Situasi itu menahan optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan memunculkan kekhawatiran terhadap jalur pengiriman minyak global melalui Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu, tekanan inflasi dari harga energi bisa meningkat dan prospek suku bunga menjadi lebih sulit diperkirakan.
Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi tetap bergerak naik turun mengikuti perkembangan eksternal dan langkah stabilisasi dari Bank Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah tetap menegaskan struktur utang negara masih berada dalam batas yang aman.
Source: www.viva.co.id