Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per dolar AS tidak langsung dibaca sebagai sinyal negatif oleh pemerintah. Dari sisi perdagangan luar negeri, Menteri Perdagangan Budi Santoso justru melihat ada ruang yang lebih besar bagi produk Indonesia untuk bersaing di pasar global.
Budi menegaskan bahwa fokus Kemendag tetap mengarah pada penguatan perdagangan luar negeri saat nilai tukar melemah. Ia menyebut kondisi rupiah seperti ini dapat menjadi momentum yang menguntungkan bagi eksportir karena harga produk Indonesia bisa tampil lebih kompetitif di luar negeri.
Dalam penjelasannya di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6), Budi mengatakan kesempatan ekspor saat ini justru makin bagus. Pandangan itu muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap pelemahan rupiah, namun pemerintah memilih menyoroti daya tahan sektor ekspor yang masih terlihat.
Ekspor masih jadi penopang
Menurut Budi, posisi perdagangan Indonesia sejauh ini masih cukup baik. Ia merujuk pada surplus perdagangan yang naik 5,48% pada Januari-April sebagai salah satu tanda bahwa kinerja ekspor belum kehilangan tenaga.
Dengan kondisi itu, pelemahan rupiah tidak otomatis mengganggu arah ekspor nasional. Pemerintah, kata dia, tetap memantau perkembangan pasar agar momentum yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha.
Bagi eksportir, rupiah yang melemah sering memberi keuntungan dari sisi daya saing. Produk Indonesia bisa menjadi lebih menarik di pasar luar negeri ketika nilai tukar bergerak turun, meski pada saat yang sama pelaku usaha impor bisa menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.
Opsi barter ikut disiapkan
Di tengah situasi nilai tukar yang menekan, pemerintah juga tidak menutup kemungkinan menggunakan pola transaksi alternatif dengan negara lain. Salah satu opsi yang disiapkan adalah barter, terutama dengan mitra dagang yang menghadapi kondisi serupa.
Budi menyebut ada rencana pertemuan dengan pengusaha Filipina pada 12 Juni. Sebelumnya, dalam ajang ASEAN, ia juga sempat bertemu salah satu pengusaha Filipina yang selama ini mengimpor barang dari Indonesia.
Langkah itu menunjukkan pemerintah ingin menjaga jalur perdagangan tetap berjalan meski tekanan kurs membuat transaksi dalam mata uang tertentu terasa kurang nyaman bagi pelaku usaha. Skema barter dinilai dapat menjadi jalan keluar yang lebih lentur ketika kondisi pasar tidak mendukung pembayaran biasa.
Harga pangan masih dipantau
Selain soal ekspor, Budi juga menanggapi kekhawatiran bahwa pelemahan rupiah bisa ikut mendorong harga bahan pokok. Ia memastikan pemantauan di SP2KP atau Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok masih menunjukkan kondisi yang stabil.
“Stok bahan pokok normal. Bahkan telur saja surplus,” kata Budi. Ia menambahkan harga telur justru berada di bawah HET, sehingga yang perlu diperhatikan adalah penyerapan agar pasokan dan permintaan tetap seimbang.
Pernyataan itu penting karena pelemahan kurs kerap memunculkan kekhawatiran lanjutan pada harga pangan. Namun, menurut Budi, kondisi saat ini masih relatif aman dari sisi pasokan, dengan sejumlah komoditas masih berada dalam posisi surplus.
Karena itu, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada pergerakan rupiah, tetapi juga pada bagaimana pasar menyerap stok yang ada secara lebih efisien. Di saat yang sama, penguatan ekspor tetap diposisikan sebagai peluang yang harus segera dimanfaatkan agar perdagangan luar negeri tetap tumbuh di tengah tekanan nilai tukar.
Source: mediaindonesia.com