Uganda Batasi Penyeberangan ke Kongo, Kenaikan Kasus Ebola Memaksa Isolasi 21 Hari

Langkah Uganda menahan laju wabah Ebola di wilayah perbatasan tidak berhenti pada pengetatan pemeriksaan semata. Pemerintah setempat memilih menutup sementara akses lintas batas dengan Republik Demokratik Kongo, sambil tetap membuka jalur darurat untuk bantuan kemanusiaan, kargo, dan kebutuhan keamanan.

Keputusan itu diambil ketika kasus dugaan Ebola melonjak di area perbatasan dan penularan juga mulai tercatat di dalam negeri. Otoritas kesehatan Uganda menilai pembatasan mobilitas menjadi cara tercepat untuk mempersempit ruang penyebaran virus yang sudah memicu kekhawatiran luas.

Penyeberangan hanya untuk keadaan darurat

Pejabat Kementerian Kesehatan Uganda, Diana Atwine, menegaskan bahwa penyeberangan tidak ditutup total. Jalur lintas batas masih dibuka untuk kondisi darurat, namun setiap orang yang masuk dari Kongo dalam situasi itu harus menjalani isolasi wajib selama 21 hari.

Atwine menjelaskan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi pergerakan yang berpotensi mempercepat penyebaran virus. Dengan begitu, pemerintah berupaya menekan risiko tanpa memutus seluruh aktivitas yang dianggap masih penting.

Kasus di Uganda ikut bertambah

Di tengah pembatasan itu, Uganda melaporkan sedikitnya tujuh kasus Ebola. Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah kematian seorang pria berusia 59 tahun di Kampala pada 14 Mei.

Otoritas kesehatan juga mencatat meningkatnya paparan di kalangan petugas medis. Diana Atwine menyebut sebagian tenaga kesehatan yang terpapar kemudian menularkan virus kepada anggota keluarga mereka.

Virus Ebola sendiri menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Karena itu, tenaga kesehatan dan keluarga pasien termasuk kelompok yang paling rentan terpapar.

Berbeda pandangan dengan WHO

Keputusan Uganda tidak sejalan dengan pandangan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Lembaga itu menilai penutupan perbatasan justru dapat mengganggu pengawasan penyakit dan mendorong orang mencari jalur lain yang tidak resmi.

WHO memperingatkan bahwa penutupan bisa membuat perpindahan orang dan barang bergeser ke penyeberangan informal yang sulit dipantau. Kondisi semacam itu dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di wilayah yang pengawasannya lebih lemah.

Selain itu, WHO telah menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Lembaga itu juga menyerukan gencatan senjata agar bantuan kemanusiaan dan penanganan wabah dapat berjalan aman dan efektif.

Situasi Kongo masih berat

Dari sisi Kongo, otoritas kesehatan melaporkan lebih dari 100 kasus telah dikonfirmasi. Hampir 1.000 kasus dugaan masih diselidiki, sementara sedikitnya 220 kematian juga masih ditelaah lebih lanjut.

Petugas kesehatan setempat juga sedang melacak lebih dari 3.000 kontak kasus. Pada Selasa, Kementerian Kesehatan Kongo mengonfirmasi satu pasien sembuh dari virus Bundibugyo dan telah dipulangkan dari pusat perawatan di Rwampara.

Kongo diketahui telah menghadapi sedikitnya 17 wabah Ebola. Para ahli menilai penanganan di wilayah timur negara itu semakin sulit karena konflik bersenjata, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya perlengkapan medis bagi tenaga kesehatan.

Fokus pengawasan di perbatasan

Dengan kondisi tersebut, Uganda memilih menjaga pengawasan ketat di perbatasan tanpa menutup semua jalur bantuan. Kebijakan ini menunjukkan upaya untuk menahan penyebaran virus sekaligus menjaga agar bantuan kemanusiaan dan kebutuhan keamanan tetap bisa bergerak.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button