Keputusan Uni Emirat Arab untuk meninggalkan OPEC dan OPEC+ langsung mengubah cara pasar membaca arah energi global. Langkah ini bukan sekadar perubahan keanggotaan, melainkan sinyal bahwa kepentingan nasional kini semakin menonjol dalam kebijakan produksi minyak negara-negara besar.
Keputusan pengunduran diri itu disebut mulai berlaku pada 1 Mei 2026. UEA mengambil langkah tersebut setelah menimbang arah produksi saat ini dan kebutuhan jangka panjang, dengan Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei menyebutnya sebagai “keputusan kebijakan” dalam keterangan yang dikutip Reuters.
Gejolak pasar muncul cepat
Respons pasar tidak menunggu lama. Harga minyak mentah Brent sempat naik hingga 111,60 dollar AS per barrel, level tertinggi sejak awal April 2026.
Minyak West Texas Intermediate atau WTI dari Amerika Serikat juga sempat menembus 100 dollar AS per barrel. Lonjakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar melihat keluarnya UEA sebagai perubahan besar yang bisa mengganggu koordinasi pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran itu wajar karena UEA selama ini dipandang sebagai salah satu penopang penting dalam struktur OPEC. Ketika peran itu hilang, pasar menilai ruang ketidakpastian akan bertambah dan keseimbangan produksi menjadi lebih sulit diprediksi.
Posisi UEA di dalam OPEC tidak kecil
UEA memegang posisi strategis karena termasuk produsen minyak terbesar ketiga di organisasi itu. Cadangan kapasitas produksinya yang besar membuat Abu Dhabi punya pengaruh nyata dalam penentuan arah pasokan global.
Selama berada di dalam OPEC, UEA ikut dalam koordinasi produksi bersama negara anggota lain. Setelah keluar, negara itu tidak lagi terikat penuh pada pengaturan kolektif yang selama ini menjadi salah satu fondasi organisasi.
Perubahan ini berpotensi melemahkan soliditas kartel pada saat pasar energi sudah menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Dalam kondisi seperti itu, setiap celah koordinasi dapat memperbesar kekhawatiran soal kecukupan pasokan.
Tanda ketegangan sudah lama terlihat
Langkah UEA sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Hubungan dengan OPEC memang sudah memperlihatkan gesekan dalam beberapa waktu terakhir, terutama terkait formula kuota produksi yang dinilai tidak sepenuhnya adil bagi Abu Dhabi.
Persoalan kuota seperti ini bukan hal asing dalam tubuh OPEC. Perbedaan kepentingan antaranggotanya kerap muncul, terutama di antara produsen utama yang memiliki ambisi dan kebutuhan produksi berbeda.
Ketegangan serupa juga pernah terlihat pada 2021 ketika UEA berselisih dengan Arab Saudi soal kebijakan pemangkasan output. Dari rangkaian itu, keputusan keluar dari OPEC tampak lebih sebagai puncak dari dinamika internal yang telah berlangsung cukup lama.
Arah baru kebijakan energi Abu Dhabi
Di luar organisasi, UEA disebut tetap ingin menjaga stabilitas pasar. Namun, negara itu juga ingin mempertahankan fleksibilitas produksi agar bisa menyesuaikan suplai dengan kebutuhan pasar dan kepentingan nasional.
Analisis pasar menunjukkan bahwa keluarnya UEA menambah lapisan ketidakpastian bagi negara pengimpor minyak. Jika fragmentasi di tubuh OPEC terus meluas, harga energi global berisiko bertahan tinggi lebih lama dari yang diperkirakan banyak pihak.
UEA juga memberi sinyal bahwa kebijakan energinya akan bergerak lebih mandiri. Di tengah gangguan distribusi akibat konflik di Selat Hormuz, Abu Dhabi memilih jalur sendiri ketimbang sepenuhnya bergantung pada konsensus kolektif OPEC.
Pada saat yang sama, pemerintah UEA tetap menaruh perhatian pada investasi besar di sektor gas dan energi bersih. Arah itu menunjukkan bahwa posisi Abu Dhabi dalam peta energi global tidak hanya bertumpu pada minyak, tetapi juga pada upaya membangun daya saing baru di luar organisasi produsen minyak tersebut.





