Warga Jawa Tengah yang beraktivitas di luar ruangan perlu menyiapkan diri menghadapi cuaca yang relatif stabil namun terasa lebih panas di sejumlah wilayah. Pada Selasa, 2 Juni 2026, BMKG memprakirakan langit di provinsi ini didominasi cerah berawan hingga berawan, dengan peluang hujan lebat yang sangat rendah.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar kabupaten dan kota di Jawa Tengah berada dalam situasi yang cenderung aman dari pertumbuhan awan hujan aktif. Cuaca yang stabil ini juga diperkirakan membantu kelancaran transportasi publik dan aktivitas ekonomi, mulai dari kawasan pesisir utara sampai wilayah pegunungan tengah.
Di tengah pola cuaca yang tenang itu, perhatian tertuju pada perbedaan suhu antardaerah yang cukup jelas. Wilayah dataran rendah dan pesisir diperkirakan lebih hangat, sedangkan kawasan pegunungan tetap berada pada suhu yang lebih sejuk.
BMKG menjelaskan bahwa pergerakan massa udara kering dari selatan ikut menekan pembentukan awan konvektif pembawa hujan. Karena itu, potensi hujan berintensitas lebat di wilayah hilir maupun kawasan perkotaan dinilai sangat kecil.
Meski ancaman hujan besar rendah, warga tetap diminta memperhatikan perubahan suhu udara dari siang hingga malam. Fluktuasi ini bisa terasa nyata di daerah yang mendapat penyinaran matahari lebih kuat pada siang hari.
Semarang dan pesisir utara terasa lebih hangat
Untuk Kota Semarang, cuaca diperkirakan cukup terik pada siang hari dengan awan tipis yang masih menutup sebagian langit. BMKG menilai kondisi itu belum cukup mendukung presipitasi tinggi sehingga langit cenderung tetap cerah berawan.
Tren cuaca Semarang dalam tiga hari ke depan juga disebut masih serupa. Suhu udara di kota ini diproyeksikan berada pada rentang yang relatif hangat, sejalan dengan karakter wilayah perkotaan di pesisir utara.
Data BMKG menunjukkan Semarang Kota memiliki suhu minimum 24 derajat Celsius dan maksimum 33 derajat Celsius. Kelembapan udaranya berada di kisaran 55 hingga 85 persen.
Kawasan pesisir utara secara umum juga diperkirakan merasakan suhu yang lebih tinggi pada siang hari. Di wilayah ini, suhu minimum diperkirakan 25 derajat Celsius dan maksimum 33 derajat Celsius, dengan kelembapan 60 hingga 85 persen.
Grobogan cenderung panas dan kering
Di sisi timur, Wirosari Grobogan diprakirakan mengalami udara yang kering dan panas pada siang hari. Minimnya tutupan awan kumulus membuat penyerapan radiasi matahari berlangsung maksimal di wilayah agraris tersebut.
BMKG menilai kondisi ini justru menguntungkan bagi petani yang sedang memasuki masa panen raya komoditas palawija di Grobogan. Meski begitu, warga tetap disarankan menjaga asupan cairan dengan cukup minum air putih saat beraktivitas di bawah terik matahari.
Rincian parameter udara di Wirosari Grobogan menunjukkan suhu minimum 23 derajat Celsius dan maksimum 32 derajat Celsius. Kelembapannya diperkirakan berada pada kisaran 60 hingga 90 persen.
BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan kecepatan angin di kawasan Grobogan dan Blora pada sore hari. Hembusan angin lokal ini dipicu oleh perbedaan tekanan udara yang cukup signifikan antara daratan dan wilayah perairan utara.
Pegunungan tetap lebih sejuk
Berbeda dengan wilayah dataran rendah, kawasan pegunungan tengah masih menikmati suhu yang lebih adem. BMKG mencatat wilayah ini memiliki rentang suhu minimum 19 derajat Celsius dan maksimum 28 derajat Celsius.
Kelembapan di pegunungan tengah juga lebih tinggi, yakni berada di kisaran 70 hingga 95 persen. Kondisi itu menegaskan bahwa wilayah tinggi tetap menjadi area yang paling sejuk dibanding pesisir dan perkotaan.
Perbedaan suhu antarkawasan ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah tidak mengalami cuaca seragam. Dataran rendah, pesisir, dan pegunungan tetap memiliki karakter udara yang berlainan meski sama-sama berada di bawah dominasi cuaca cerah berawan.
Pantauan regional masih berlanjut
Di wilayah tetangga, dinamika udara juga ikut memengaruhi kondisi regional. Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2 Juni ini terpantau cerah dengan suhu 22 hingga 28 derajat Celsius dan kelembapan 69 hingga 89 persen.
Sementara itu, penurunan suhu malam hari atau bediding masih kerap dirasakan warga di berbagai wilayah Jawa. Fenomena ini lazim terjadi ketika Jawa mulai memasuki transisi menuju musim kemarau yang mapan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau pembaruan data cuaca secara berkala karena atmosfer bersifat dinamis. Informasi resmi terkait peringatan dini navigasi laut dan penerbangan dapat diakses melalui kanal komunikasi terintegrasi milik BMKG.
Source: www.pdiperjuanganbali.id