Ledakan populasi ubur-ubur bulan Asia bukan sekadar urusan hewan laut yang tampak cantik dan transparan. Saat jumlahnya melonjak, spesies ini dapat ikut mengganggu kestabilan perairan, dari suhu air sampai rantai makanan.
Dampaknya memang tidak selalu langsung terlihat oleh manusia, tetapi efeknya dapat merambat ke banyak sisi ekosistem. Dalam kondisi tertentu, lonjakan ubur-ubur bulan Asia juga disebut dapat mengurangi frekuensi pembangkit listrik tenaga nuklir.
Bukan perenang andal, tetapi mudah bertahan
Ubur-ubur bulan Asia bergerak lambat dan tidak bisa menyelam terlalu dalam. Karena itu, hewan ini lebih sering ditemukan di perairan dangkal, pinggir pantai, laguna, serta wilayah bersuhu dingin.
Cara hidupnya ikut membantu spesies ini bertahan. Penelitian yang dimuat dalam PLOS ONE menjelaskan bahwa ubur-ubur bulan Asia melewati dua fase perkembangan, yaitu metagenetic dan direct development.
Pada fase metagenetic, hewan ini berubah menjadi polip dan menempel pada substrat di dasar laut selama sekitar satu setengah tahun. Setelah itu, fase direct development dimulai ketika ia berubah menjadi ephyra, atau larva ubur-ubur, lalu tumbuh menjadi individu dewasa.
Ciri fisik yang mudah dikenali
Tubuh ubur-ubur bulan Asia tipis dan transparan, dengan bentuk membulat seperti bulan. Diameter maksimalnya dapat mencapai sekitar 50 sentimeter, sedangkan ukuran rata-ratanya berada di kisaran 20–40 sentimeter.
Bagian oral arms-nya memiliki panjang sekitar 33–38 persen dari diameter tubuh utama atau bell. Spesies ini juga memiliki 16 cuping marginal, yang membuat bentuknya semakin khas.
Ketika jumlahnya meledak, ekosistem ikut terganggu
Secara umum, ubur-ubur bulan Asia tidak berbahaya bagi manusia. Masalah muncul saat populasinya meningkat tajam dan muncul dalam jumlah besar di suatu wilayah.
Sebuah artikel di jurnal Marine Ecology Progress Series menyebut ledakan populasi ini dapat memengaruhi suhu air. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan ubur-ubur bulan Asia tidak berhenti pada tampilan fisiknya saja, tetapi bisa ikut mengubah karakter perairan.
Gangguan lain terlihat pada rantai makanan. Penelitian pada 2018 di Journal of Oceanography menunjukkan lonjakan populasi ubur-ubur bulan Asia dapat menurunkan populasi plankton secara signifikan, lalu mengacaukan tatanan ekosistem.
Peka pada kondisi perairan
Meski tahan pada kadar oksigen yang minim, ubur-ubur bulan Asia sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas air. Sifat ini membuat keberadaannya erat dengan kondisi lingkungan tempat ia hidup.
Karena itu, spesies ini sering dipandang sebagai penanda penting perubahan di laut. Saat kondisi perairan mendukung, kombinasi kemampuan adaptif dan reproduksi yang efektif membuatnya mudah muncul dalam jumlah besar.
Nilai ilmiah di balik tampilan yang memikat
Di luar reputasinya sebagai pengganggu ekosistem, ubur-ubur bulan Asia juga menarik untuk riset medis dan bioteknologi. Dilansir Atlas of Australia, hewan ini hidup di daerah yang kaya bakteri dan dapat mengeluarkan zat phenolic yang merupakan antioksidan alami.
Ubur-ubur ini juga terbukti mampu melakukan aktivitas lysozyme lewat “tangan” dan mukus. Para ahli menduga kemampuan itu menjadi bagian dari strategi pertahanan untuk melawan bakteri di air.
Zat phenolic yang dihasilkannya berpotensi dimanfaatkan manusia, terutama di bidang medis dan bioteknologi. Namun, pemanfaatan tersebut masih sebatas wacana dan belum terealisasi.
Source: www.idntimes.com




