Persija Jakarta pulang dari Gianyar dengan rasa kecewa yang sulit disembunyikan setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan PSIM pada pekan ke-29 BRI Super League 2025/26 di Stadion Kapten I Wayan Dipta. Dominasi serangan yang dibangun sepanjang laga tidak cukup untuk mengubah hasil, meski Macan Kemayoran menciptakan banyak peluang.
Sorotan utama laga ini bukan pada kurangnya tekanan Persija, melainkan kegagalan mereka mengubah situasi menjadi kemenangan. Pelatih Mauricio Souza menilai timnya sudah berada di jalur yang tepat dalam membangun permainan, tetapi penyelesaian akhir membuat hasil akhirnya jauh dari harapan.
Efektivitas jadi pembeda
Souza menegaskan Persija sebenarnya punya jumlah kesempatan yang sangat besar. Menurutnya, timnya menciptakan 25 peluang, tetapi angka itu tidak berbanding lurus dengan hasil di papan skor.
Di sisi lain, PSIM dinilai jauh lebih efisien. Souza menyebut lawan hanya memiliki tiga peluang tepat sasaran dan satu di antaranya berbuah gol, sehingga perbedaan efektivitas terlihat sangat jelas sepanjang pertandingan.
“Percuma jika sudah banyak menekan pertahanan lawan, tetapi tidak berbuah gol,” ujar Souza. Pernyataan itu menggambarkan masalah utama Persija pada laga ini, yakni ketajaman yang belum muncul saat memasuki area penentuan.
Gol cepat yang mengubah arah permainan
Laga sebenarnya langsung bergerak cepat sejak awal. Persija harus menerima pukulan lebih dulu ketika PSIM mencetak gol pada menit keempat melalui Norberto Ezequiel Vidal.
Gol itu lahir dari celah di lini tengah Persija yang memberi ruang bagi serangan balik PSIM. Vidal memanfaatkan situasi tersebut dan membawa tim tamu unggul lebih dulu saat pertandingan baru berjalan sangat dini.
Setelah kebobolan, Persija tidak kehilangan ritme permainan. Tekanan mereka meningkat, dan respons itu membuahkan hasil ketika Allano Lima menuntaskan penalti pada menit ke-20 untuk membuat skor kembali seimbang.
Peluang datang beruntun, hasil tetap tertahan
Momentum sempat berpindah ke kubu Persija ketika mereka mendapatkan kesempatan emas lain dari titik putih. Namun, eksekusi Emaxwell Souza tidak menemui sasaran, sehingga peluang untuk membalikkan keadaan hilang begitu saja.
Sesudah itu, Persija terus menekan dengan intensitas yang tinggi. Gustavo Almeida mendapat kesempatan lewat sundulan, Jean Mota melepaskan sepakan keras, dan Bruno Tubarão ikut mencoba peruntungan, tetapi tidak ada satu pun yang berubah menjadi gol.
PSIM memilih merapatkan pertahanan dan menjaga disiplin di area sendiri. Meski tidak banyak menambah ancaman, tim tamu cukup tenang menahan gempuran hingga laga selesai dengan skor 1-1.
Masalah lama yang kembali terlihat
Hasil imbang ini memperlihatkan bahwa dominasi permainan tidak selalu cukup jika penyelesaian akhir tidak jalan. Persija mampu memegang kendali di banyak fase, tetapi mereka gagal mengubah tekanan itu menjadi angka yang menentukan.
Souza juga melihat bahwa timnya sempat bereaksi baik setelah tertinggal. Namun, satu kesalahan di lini tengah yang membuka jalan bagi gol awal PSIM serta kegagalan memaksimalkan penalti membuat Persija kehilangan kesempatan terbaik untuk menang.
Dalam pertandingan yang berjalan ketat seperti ini, detail kecil menjadi penentu. Persija memang lebih sering menyerang dan terus menekan, tetapi PSIM lebih efektif saat mendapat peluang, dan itulah yang akhirnya menjaga mereka pulang dengan satu poin dari Gianyar.
Source: www.medcom.id




