Indonesia sedang masuk ke radar pendanaan energi bersih global, dan HSBC China menyiapkan fasilitas kredit senilai USD 4 miliar atau sekitar Rp71,5 triliun untuk menangkap peluang itu. Arus dana ini tidak hanya menyasar proyek di Tiongkok, tetapi juga diarahkan ke pasar internasional yang membutuhkan pembiayaan transisi energi dalam skala besar.
Salah satu tujuan penting dari skema itu adalah Indonesia, negara yang masih memerlukan dana sangat besar untuk mengejar target emisi dan mempercepat pembangunan energi rendah karbon. HSBC melihat kebutuhan tersebut sebagai pintu masuk bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok yang bergerak di sektor energi bersih untuk memperluas jejak bisnis di luar negeri.
Fasilitas yang disiapkan itu bernama Sustainability and Transition Credit Facility. Dana ini ditujukan bagi perusahaan Tiongkok yang memenuhi syarat di sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, pusat data, hingga kecerdasan buatan.
Presiden Direktur HSBC Indonesia Stuart Rogers menilai transisi energi di Indonesia sebagai salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan. Ia menegaskan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk mengejar target emisi 2030 masih sangat signifikan.
Menurut Stuart, HSBC berada pada posisi yang strategis untuk menjembatani ambisi Indonesia dengan perusahaan energi bersih kelas dunia, termasuk dari China. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan pasar domestik yang masih terus mencari sumber pendanaan baru untuk proyek hijau.
China sebagai pusat perusahaan rendah karbon
HSBC juga menempatkan China sebagai salah satu sumber utama ekspansi perusahaan rendah karbon di dunia. Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC Natalie Blyth menyebut perusahaan-perusahaan tersebut kini menjadi tolok ukur baru dalam manufaktur kelas atas.
Saat perusahaan-perusahaan itu mulai berekspansi ke luar negeri, mereka membutuhkan mitra finansial dengan jangkauan global. Karena itu, fasilitas kredit ini disiapkan untuk membantu nasabah menangkap peluang pertumbuhan di berbagai negara.
Arah pembiayaan tersebut tidak terbatas pada proyek pembangkit listrik. HSBC ikut membidik sektor yang membentuk ekosistem transisi energi, mulai dari energi terbarukan, kendaraan listrik, infrastruktur pusat data, hingga pengembangan kecerdasan buatan.
Peluang yang bertemu kebutuhan
Di sisi lain, kebutuhan Indonesia sendiri masih sangat besar. Negara ini diperkirakan memerlukan sekitar USD 97 miliar untuk mewujudkan target aksi iklim tahun 2030, sebagaimana tercantum dalam Comprehensive Investment and Policy Plan atau CIPP dari kemitraan Just Energy Transition Partnership.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL terbaru juga memperlihatkan skala ambisi yang tinggi. Untuk periode 2025 hingga 2034, Indonesia menargetkan pembangunan kapasitas energi terbarukan baru sebesar 42.569 MW, lebih dari dua kali lipat dibanding rencana korporasi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, target itu juga memasukkan sistem penyimpanan energi. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan tidak hanya datang dari pembangunan pembangkit, tetapi juga dari infrastruktur pendukung yang membuat transisi berjalan lebih stabil.
Dorongan dari kerja sama kawasan
Ekspansi pendanaan ini mendapat dukungan tambahan dari ASEAN-China Free Trade Area atau ACFTA 3.0 Upgrade Protocol. Kesepakatan yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 itu memperluas kerja sama ASEAN dan China ke ekonomi hijau, ekonomi digital, serta konektivitas rantai pasok.
Perubahan tersebut membuka ruang yang lebih besar bagi arus investasi dan kerja sama bisnis lintas negara. Dalam konteks kawasan, pembaruan ini juga sejalan dengan pembahasan para pemimpin ASEAN di KTT ASEAN ke-48 di Filipina yang kembali menegaskan percepatan interkoneksi ASEAN Power Grid.
Daya tarik investasi hijau kian menguat
Indonesia juga punya nilai tambah dari sisi biaya pembangkitan. Sebanyak 91 persen proyek pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru yang mulai beroperasi pada 2024 memiliki biaya lebih murah dibanding harga bahan bakar fosil termurah di dunia.
HSBC menilai kombinasi antara kebutuhan pembiayaan yang besar, pasar energi bersih yang berkembang, dan dukungan regulasi regional membuat Indonesia semakin menarik bagi investor. Dalam lanskap itu, fasilitas kredit HSBC China diposisikan sebagai pintu masuk bagi perusahaan Tiongkok untuk memperluas proyek di Indonesia.
Di tingkat global, dorongan ini juga mencerminkan bagaimana transisi energi kini bergerak bersama teknologi, perdagangan, dan persaingan investasi hijau lintas batas. China sendiri disebut menguasai sekitar 47 persen ekspor teknologi bersih dunia dan memegang pangsa sekitar dua pertiga ekspor industri tenaga surya dan baterai global.
Permintaan terhadap teknologi pendukung transisi juga terus naik, termasuk mobil listrik yang penjualannya diproyeksikan menembus 26 juta unit di seluruh dunia pada 2026. Sementara itu, konsumsi daya listrik untuk pusat data global diperkirakan melonjak dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi 945 TWh pada 2030.
Source: www.suara.com