Sampah Rumah Kini Bisa Menjadi Nilai Cicilan BTN, Programnya Menjangkau 15 Kota

Program pembayaran angsuran rumah dengan sampah kini tidak lagi berhenti di satu lokasi. BTN mulai membawa skema Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu ke lebih banyak daerah setelah melihat respons awal yang dianggap menjanjikan.

Melalui pendekatan ini, sampah anorganik dari rumah tangga dapat diubah menjadi nilai ekonomi yang masuk ke rekening BTN. Cara tersebut diposisikan sebagai kebiasaan baru yang menghubungkan urusan cicilan rumah dengan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Ekspansi program itu didorong oleh capaian yang sudah terkumpul sejauh ini. Hingga Maret 2026, jumlah sampah yang berhasil dihimpun melalui program tersebut telah melampaui 1.261 kilogram dan berasal dari 21 klaster perumahan.

BTN menempatkan kolaborasi dengan bank sampah lokal sebagai kunci pelaksanaan di lapangan. Salah satu kerja sama yang dijalankan adalah dengan Bank Sampah Muria Berseri Kudus, tempat masyarakat menyetorkan sampah anorganik untuk kemudian dihitung menjadi nilai ekonomi.

Jenis sampah yang diterima juga cukup umum dijumpai di rumah. Plastik, kardus, aluminium, besi, dan kaca masuk dalam kategori yang bisa disetor dalam program ini.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menegaskan bahwa pengurangan emisi bisa dimulai dari rumah. Ia menyampaikan bahwa bank ingin mendorong perubahan perilaku yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung lingkungan.

Menurut Setiyo, setor sampah di BTN dibuat agar terasa lebih menguntungkan bagi nasabah. “BTN percaya pengurangan emisi bisa dimulai dari rumah. Melalui kolaborasi dengan komunitas bank sampah lokal, kami ingin masyarakat merasakan bahwa setor sampah di BTN menjadi lebih cuan sekaligus ikut menjaga lingkungan,” ujarnya saat berkunjung ke Bank Sampah Muria Berseri Kudus.

BTN juga melihat program ini sebagai jawaban atas besarnya persoalan sampah rumah tangga di Indonesia. Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rumah tangga menyumbang sekitar 46,3% dari total produksi sampah nasional atau setara 34,1 juta ton per tahun.

Dari jumlah itu, baru 31,3% atau sekitar 10,7 juta ton yang berhasil dikelola. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat pengelolaan sampah dari level rumah tangga.

Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan kehadiran program ini juga mempererat hubungan bank dengan masyarakat. BTN, kata dia, ingin hadir bukan hanya saat nasabah membeli rumah, tetapi juga ketika kebiasaan baru yang bernilai ekonomi mulai dibangun dari rumah.

“BTN ingin hadir tidak hanya saat masyarakat membeli rumah, tetapi juga mendukung kebiasaan baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Hermita.

Dengan perluasan ke 8 provinsi dan 15 kota di Indonesia, BTN membawa konsep pembiayaan lebih dekat ke aktivitas harian masyarakat. Dalam skema itu, sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah, melainkan bagian dari ekosistem layanan yang bisa membantu angsuran rumah tetap berjalan.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version