Trafik Naik, Rugi Garuda Indonesia Menyusut 45 Persen Di Awal Tahun

Kinerja Garuda Indonesia pada kuartal I/2026 menunjukkan perbaikan di banyak sisi sekaligus. Selain rugi bersih yang menyusut 45,2 persen, maskapai pelat merah itu juga mencatat kenaikan trafik penumpang, pendapatan, dan kesiapan armada.

Penyusutan rugi tersebut membuat pasar mendapat sinyal bahwa proses pemulihan Garuda Indonesia mulai bergerak lebih stabil. Manajemen menyebut capaian itu sebagai buah bertahap dari transformasi dan penguatan fundamental bisnis yang sedang dijalankan.

Dari sisi keuangan, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih US$41,62 juta. Angka itu turun tajam dibandingkan periode yang sama sebelumnya, ketika kerugian masih lebih besar.

Pendapatan usaha konsolidasian ikut bergerak naik menjadi US$762,35 juta atau setara Rp12,9 triliun. Realisasi itu tumbuh 5,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$723,56 juta.

Penerbangan berjadwal masih jadi penggerak utama

Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari penerbangan berjadwal. Segmen ini menyumbang US$648,10 juta, naik sekitar 7,36 persen secara tahunan.

Kenaikan itu sejalan dengan meningkatnya aktivitas operasional di jaringan maskapai. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, Garuda Indonesia Group mengangkut 5,42 juta penumpang dan mencatat 19.337 pergerakan pesawat di seluruh jaringan.

Dari total penumpang tersebut, Garuda Indonesia melayani 2,47 juta orang. Citilink berada di bawah naungan grup yang sama dan mengangkut 2,94 juta penumpang pada periode yang sama.

Disiplin operasional ikut membaik

Selain trafik yang menguat, kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan. On-time performance atau OTP Garuda Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai 91,01 persen.

Manajemen menilai capaian itu mencerminkan disiplin operasional yang semakin terjaga. Direktur Utama GIAA, Glenny Kairupan, melihat kenaikan trafik, peningkatan kapasitas penerbangan, dan perbaikan kinerja keuangan sebagai tanda awal transformasi yang mulai terlihat bertahap.

Pada akhir Maret 2026, Garuda Indonesia juga sudah mengoperasikan 102 armada yang siap terbang. Langkah ini menjadi bagian dari percepatan program pengembalian layanan pesawat yang terus didorong perusahaan.

Fokus efisiensi tetap dipertahankan

Di tengah perbaikan sejumlah indikator, Garuda Indonesia masih menempatkan efisiensi biaya sebagai perhatian utama. Perseroan juga terus mengoptimalkan jaringan penerbangan sambil mendorong digitalisasi operasional dan transformasi layanan pelanggan di seluruh lini bisnis grup.

Glenny menegaskan arah kerja perusahaan tetap bertumpu pada operational discipline, service reliability, dan pertumbuhan bisnis yang lebih sehat serta berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya cost discipline, penguatan operational excellence, optimalisasi jaringan penerbangan, dan transformasi layanan berbasis digitalisasi.

Gabungan antara rugi yang menyempit, pendapatan yang meningkat, trafik penumpang yang tumbuh, dan OTP yang membaik memberi gambaran bahwa pemulihan Garuda Indonesia mulai memiliki hasil yang lebih nyata. Untuk kuartal I/2026, perbaikan itu menjadi dasar penting bagi langkah lanjutan perseroan dalam menjaga laju bisnisnya.

Exit mobile version