Valve tampaknya ingin membuat satu kontroler yang bisa terasa pas di meja kerja sekaligus nyaman dipakai di ruang keluarga. Steam Controller menjadi upaya paling jelas untuk menggabungkan fleksibilitas PC dengan kepraktisan ala konsol tanpa kehilangan ciri khas Steam.
Yang menarik, perangkat ini tidak dibangun seperti gamepad biasa. Valve justru memasukkan trackpad, dukungan gyro, dan Steam Input yang sangat fleksibel agar kontrol terasa lebih presisi dan tetap mudah diatur sesuai kebutuhan pemain.
Fokus pada fleksibilitas input
Steam Controller menonjol karena cara Valve memikirkan input dari awal. Alih-alih hanya menyalin bentuk kontroler pada umumnya, perangkat ini disiapkan untuk memberi rasa bermain yang lebih dekat ke PC, tetapi tetap nyaman untuk digunakan dalam suasana santai.
Pendekatan itu terlihat dari hadirnya Steam Input sebagai pusat pengaturan. Pemain bisa memetakan ulang tombol dan membuat profil khusus untuk tiap game, sehingga satu kontroler dapat menyesuaikan diri dengan banyak jenis permainan.
Bagi pengguna yang suka mengutak-atik kontrol, pendekatan ini menjadi nilai utama. Steam Controller memang terasa dirancang untuk pemain yang ingin perangkatnya mengikuti game, bukan dipaksa mengikuti satu skema tetap.
Trackpad dan gyro jadi pembeda
Komponen yang paling membedakan Steam Controller dari gamepad lain adalah trackpad. Fitur ini meneruskan identitas desain generasi sebelumnya dan ditujukan untuk game yang biasanya lebih enak dimainkan dengan mouse.
Pada genre strategi dan first-person shooter, trackpad memberi keuntungan dalam akurasi gerakan. Di situ, Valve mencoba menjembatani kontrol stik tradisional dengan presisi yang biasa dicari pemain PC.
Valve juga menambahkan gyro support untuk membantu presisi lebih jauh. Pada game yang kompatibel, gyro dapat membuat bidikan terasa lebih halus, terutama di game shooter dan action yang menuntut kontrol detail.
Ada pula teknologi GripSense yang mendeteksi posisi tangan untuk memicu input yang dapat disesuaikan. Namun pada versi ini, penerapannya masih terasa terbatas dan belum sepenuhnya matang.
Desain yang mengejar kenyamanan jangka panjang
Secara fisik, Steam Controller dibuat sedikit lebih besar dibanding kontroler Xbox Series X. Tata letaknya terinspirasi dari Steam Deck, sehingga fokusnya jelas mengarah ke kenyamanan penggunaan dalam waktu lama.
Valve juga memberi kesan premium dan kokoh pada perangkat ini. Tidak hanya fitur yang dicoba, tetapi juga ergonomi dan daya tahan menjadi bagian penting dari arah desainnya.
Salah satu elemen yang ikut memperkuat pendekatan itu adalah TMR magnetic thumbsticks. Stik ini dibuat agar responsnya lebih halus dan presisi, sekaligus menawarkan durabilitas yang lebih baik dibanding stik analog tradisional.
Di bagian belakang, Valve menempatkan back buttons agar mudah dijangkau. Kehadiran tombol ini memberi opsi input tambahan tanpa mengganggu posisi tangan saat bermain.
Siap dipakai di berbagai setup
Valve menyiapkan beberapa opsi konektivitas agar perangkat ini bisa masuk ke banyak skenario penggunaan. Steam Controller mendukung USB-C untuk sambungan kabel, Bluetooth untuk pairing nirkabel, dan 2.4 GHz wireless.
Mode 2.4 GHz mendapat dukungan puck bawaan yang berfungsi sebagai charging dock sekaligus receiver nirkabel. Kombinasi ini membuat Steam Controller mudah dipindahkan dari meja kerja ke ruang keluarga.
Fleksibilitas itu sejalan dengan tujuan Valve untuk menghadirkan alat input yang bisa melintasi gaya bermain PC tradisional dan pengalaman yang lebih santai ala konsol. Steam Controller tidak hanya ditujukan untuk satu jenis ruang atau satu cara bermain saja.
Meski begitu, perangkat ini tetap bukan jawaban untuk semua pengguna. Ketergantungannya pada ekosistem Steam membuatnya paling menarik bagi pengguna yang sudah terbiasa bermain di platform Valve, terutama di Windows dan Linux.
Di luar Steam, kompatibilitasnya disebut masih terbatas, terutama pada launcher dan platform lain. Pengguna macOS juga memiliki pilihan yang lebih sedikit, sehingga daya tarik Steam Controller tidak merata di semua ekosistem komputasi.
Bagian dari strategi ekosistem Valve
Arah yang diambil Valve menjadi lebih jelas jika dikaitkan dengan Steam Deck. Keduanya menunjukkan upaya membangun ekosistem terpadu yang menghubungkan bermain di meja, perangkat genggam, dan televisi.
Gagasan itu juga sejalan dengan semangat Steam Machine, ketika Valve mencoba membawa PC gaming ke ruang keluarga dengan kemudahan ala konsol. Steam Controller hadir sebagai salah satu bagian dari dorongan tersebut.
Melalui perangkat ini, Valve kembali menegaskan bahwa perangkat keras dan perangkat lunak sebaiknya bekerja sebagai satu sistem. Hasilnya adalah kontroler yang fleksibel, cukup mudah diakses, dan tetap membawa kebebasan khas PC.
Source: www.geeky-gadgets.com