Tottenham Hotspur memilih menempuh jalur hukum setelah Kevin Danso menjadi sasaran pelecehan rasis di media sosial. Klub London Utara itu menilai serangan yang muncul usai laga melawan Brighton & Hove Albion sudah melewati batas kritik biasa dan harus ditangani pihak berwenang.
Dalam pernyataan resminya, Spurs menyebut konten yang berhasil diidentifikasi telah diserahkan kepada Kepolisian Metropolitan. Klub juga bekerja sama dengan platform media sosial terkait serta otoritas di negara tempat para pelaku berada untuk membantu proses pelacakan identitas.
Kasus ini mencuat setelah Tottenham bermain imbang 2-2 melawan Brighton. Kesalahan Danso pada laga tersebut berujung pada gol Georginio Rutter, lalu memicu tekanan besar terhadap bek asal Austria itu di ruang digital.
Spurs menegaskan tidak akan memberi ruang bagi perilaku yang merendahkan martabat manusia. Sikap itu disampaikan dengan tegas, sejalan dengan kampanye Premier League bertajuk “No Room for Racism”, yang menolak rasisme dalam bentuk apa pun di sepak bola maupun di ruang publik.
Di tengah situasi tersebut, dukungan klub kepada Danso tetap penuh dan tanpa syarat. Tottenham ingin memastikan bahwa sang pemain tidak menghadapi serangan itu sendirian, terutama ketika sorotan terhadap performanya sedang meningkat.
Pelecehan berbasis ras memang kerap muncul setelah seorang pemain melakukan kesalahan di lapangan. Namun, klub menekankan bahwa evaluasi terhadap performa tetap berbeda jauh dari serangan diskriminatif yang dapat diproses sebagai tindak pidana.
Tottenham menyebut pelecehan yang diterima Danso bukan sekadar komentar kasar, melainkan sudah masuk kategori signifikan dan menjijikkan. Karena itu, klub memutuskan untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum, bukan membiarkannya berhenti sebagai percakapan di media sosial.
Danso sendiri merespons masalah ini dengan tenang melalui media sosial. Ia mengakui melihat komentar bernada rasis, tetapi menolak membiarkan serangan tersebut membentuk identitas dirinya.
“Penyalahgunaan rasis tidak ada tempatnya dalam permainan ini atau di mana pun. Tapi itu tidak mendefinisikan saya,” tulis Danso. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tahu siapa dirinya, apa yang diperjuangkan, dan alasan bermain sepak bola.
Respons itu menunjukkan upaya Danso untuk tetap fokus di tengah tekanan. Di saat kritik atas kesalahan di laga melawan Brighton masih bergulir, perhatian utamanya tetap tertuju pada tim dan kebutuhan untuk bangkit pada pertandingan berikutnya.
Situasi ini juga memperlihatkan bahwa sepak bola masih harus menjaga batas tegas antara kritik olahraga dan diskriminasi. Tottenham mencoba menegaskan batas itu lewat laporan resmi, pengumpulan bukti, serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban.
Source: www.medcom.id




