Tewasnya 90 Orang Di Tambang Shanxi, Pencarian Korban Ledakan Gas Masih Berlanjut

Kecelakaan besar di tambang batu bara Liushenyu, Shanxi, kembali menyorot rapuhnya keselamatan kerja di sektor tambang China. Ledakan gas di lokasi itu menewaskan sedikitnya 90 orang dan membuat operasi pencarian korban terus dikebut hingga Sabtu sore.

Saat insiden terjadi, 247 pekerja masih berada di bawah tanah pada pukul 7.29 malam waktu setempat, Jumat. Hingga laporan terbaru, jumlah korban masih berpotensi berubah karena tim penyelamat belum berhenti menelusuri pekerja yang belum ditemukan.

Upaya penyelamatan masih berlangsung

Sebanyak 755 petugas darurat dan medis dikerahkan ke lokasi untuk mendukung evakuasi dan pencarian. Video CCTV memperlihatkan para penyelamat berhelm membawa tandu di area tambang, sementara ambulans tampak bersiaga di latar belakang.

Xinhua melaporkan 123 orang telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Dari jumlah itu, empat orang berada dalam kondisi kritis atau berat, sementara CCTV menyebut 33 korban yang dirawat sudah kembali ke rumah per Sabtu pukul 2 siang.

Di tengah operasi yang masih berjalan, otoritas terus memeriksa area tambang untuk menemukan pekerja yang belum ditemukan. Proses ini berlangsung bersamaan dengan upaya evakuasi para korban yang berhasil dijangkau lebih dulu.

Kesaksian pekerja yang selamat

Seorang pekerja tambang yang terluka, Wang Yong, menceritakan kondisi saat ledakan terjadi kepada CCTV. Ia mengatakan mendengar “puff of smoke” dan mencium bau sulfur sebelum melihat sejumlah orang tercekik asap lalu pingsan.

Keterangan itu memperlihatkan betapa cepatnya situasi memburuk di bawah tanah. Pada tahap awal, media pemerintah sempat melaporkan empat orang tewas dan puluhan lainnya terjebak setelah kadar karbon monoksida di tambang melampaui batas.

Karbon monoksida merupakan gas sangat beracun dan tidak berbau, sehingga risiko bagi pekerja di bawah tanah menjadi jauh lebih besar. Beberapa pekerja yang terjebak juga disebut berada dalam kondisi kritis pada fase awal pencarian.

Sorotan pada keselamatan tambang

Seiring pagi berjalan, jumlah korban tewas melonjak tajam dan bencana ini langsung menjadi salah satu kecelakaan tambang terbesar di China dalam 17 tahun terakhir. Ledakan tersebut juga tercatat sebagai bencana tambang terburuk di China sejak 2009, ketika 108 orang tewas dalam ledakan tambang di Heilongjiang, timur laut China.

Xi Jinping meminta upaya penuh untuk merawat para korban luka dan mendesak penyelidikan menyeluruh atas insiden ini. Ia juga menekankan agar semua wilayah dan departemen mengambil pelajaran dari kecelakaan tersebut dan tetap waspada terhadap keselamatan kerja.

Xinhua menyebut pihak yang bertanggung jawab atas perusahaan yang terkait dengan ledakan itu telah ditempatkan di bawah pengawasan sesuai hukum. Langkah ini menandai bahwa otoritas mulai menindaklanjuti kasus tersebut secara hukum.

Shanxi dikenal sebagai salah satu provinsi termiskin di China sekaligus pusat pertambangan batu bara negara itu. Meski keselamatan tambang di China membaik dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan masih kerap terjadi karena protokol keselamatan yang longgar dan aturan yang kerap kabur.

Tragedi di Liushenyu kembali menegaskan bahwa risiko besar di sektor ini belum hilang. Pada 2023, runtuhnya tambang batu bara terbuka di Mongolia Dalam juga menewaskan 53 orang.

Baca Juga

Back to top button