Tenggat 4 Juli Menekan Brussel, Trump Siap Naikkan Tarif Jika Kesepakatan Mandek

Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali naik setelah Donald Trump memberi sinyal keras bahwa tarif untuk produk Eropa bisa melompat jauh lebih tinggi. Ancaman itu langsung menempatkan tenggat 4 Juli sebagai momen penentu bagi negosiasi yang masih berlangsung.

Trump meminta Uni Eropa segera menghapus bea masuk terhadap produk Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa jika tidak ada kemajuan konkret sebelum tenggat tersebut, Washington akan menaikkan tarif produk Eropa ke level yang lebih tinggi.

Pernyataan itu muncul setelah Trump berbicara lewat telepon dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dalam keterangan resminya, Trump mengatakan bahwa ia sudah memberi batas waktu dan menyiapkan konsekuensi bila pembicaraan tidak menghasilkan hasil yang diinginkan.

Di sisi lain, Von der Leyen menyampaikan nada yang lebih optimistis. Ia menyebut Uni Eropa sedang membuat kemajuan yang baik menuju pengurangan tarif sebelum tenggat yang sudah ditetapkan.

Melalui unggahan di platform X, Von der Leyen juga menegaskan kembali komitmen kedua pihak untuk menjalankan kesepakatan yang sebenarnya telah dicapai sejak Juli tahun lalu. Namun, komitmen itu belum otomatis membuat proses implementasi berjalan mulus.

Perundingan Masih Penuh Ganjalan

Meski ada sinyal kemajuan, pembahasan di level teknis dan politik masih jauh dari kata tuntas. Pertemuan para pembuat kebijakan Uni Eropa dan pemerintah negara anggota pada Rabu lalu berakhir tanpa kesepakatan.

Salah satu rancangan yang dibahas memuat tarif 15% untuk ekspor Uni Eropa ke Amerika Serikat. Angka itu memang lebih rendah dibanding ancaman awal Trump yang sempat mencapai 30%, tetapi tetap memicu perdebatan di internal Uni Eropa.

Parlemen Eropa pada Maret lalu hanya memberi persetujuan bersyarat. Para legislator menilai mereka baru bisa menerima tarif nol persen untuk barang-barang AS jika produk baja dan aluminium Eropa dikecualikan dari tarif global 50% yang sebelumnya ditetapkan Trump.

Perbedaan posisi ini membuat jalur negosiasi tetap rumit. Masing-masing pihak masih mempertahankan kepentingan dagang yang berbeda, sehingga ruang kompromi belum sepenuhnya terbuka.

Tekanan Baru dari Washington

Ancaman terhadap Uni Eropa juga datang setelah Trump sebelumnya menuduh blok tersebut tidak mematuhi kesepakatan. Ia bahkan sempat mengancam akan menaikkan tarif kendaraan hingga 25% pada pekan lalu.

Negosiator utama Parlemen Eropa, Bernd Lange, mengakui bahwa ada kemajuan dalam pembicaraan. Namun, ia menegaskan bahwa jalan menuju kesepakatan akhir masih panjang.

Lange juga menyebut parlemen tetap berpegang pada mandat yang memberi jaminan tambahan bagi warga dan perusahaan di Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Sikap itu menunjukkan bahwa parlemen belum siap melonggarkan posisi begitu saja tanpa kepastian lebih luas.

Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei di Strasbourg, Prancis. Pertemuan itu akan menjadi salah satu penentu apakah tenggat 4 Juli benar-benar bisa menghasilkan kesepakatan atau justru memperkeras ancaman tarif.

Bayang-bayang Masalah di Dalam Negeri Amerika Serikat

Saat Washington menekan mitra dagang di luar negeri, kebijakan tarif Trump juga sedang diuji di dalam negeri. Beberapa jam setelah ancaman terhadap Uni Eropa muncul, pengadilan dagang Amerika Serikat memutuskan bahwa tarif global 10% yang baru-baru ini ditetapkan Trump tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Pengadilan Perdagangan Internasional Amerika Serikat menilai penggunaan Pasal 122 dari Undang-Undang Perdagangan 1974 tidak tepat untuk situasi saat ini. Meski keputusan itu baru berlaku untuk dua perusahaan importir tertentu, putusan tersebut membuka peluang bagi gugatan hukum yang lebih luas terhadap kebijakan tarif Trump.

Kondisi ini membuat posisi negosiasi Washington semakin kompleks. Tekanan politik dari luar negeri kini berjalan beriringan dengan tantangan hukum di dalam negeri, sementara hubungan dagang Amerika Serikat dan Uni Eropa masih bergantung pada hasil pembicaraan berikutnya.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version