Tekanan Rupiah Bertambah, Biaya Barang Impor dan Belanja Harian Warga Ikut Terancam Naik

Pelemahan rupiah kembali menjadi sorotan karena dampaknya tidak berhenti di layar pasar uang. Saat kurs bergerak ke Rp17.685 per dolar AS, risiko kenaikan harga barang impor ikut membayangi, dan tekanan itu pada akhirnya dapat terasa di belanja harian masyarakat.

Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa pagi menunjukkan ruang penguatan mata uang domestik masih terbatas. Data pasar spot Bloomberg mencatat rupiah melemah 17 poin atau 0,10 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS.

Di tengah kondisi itu, pasar belum melihat tanda bahwa tekanan dari dalam negeri dan luar negeri mereda. Lukman Leong dari Doo Financial Futures menilai pelemahan rupiah dipengaruhi gabungan banyak sentimen sekaligus, mulai dari kenaikan harga minyak dunia, defisit anggaran, hingga aliran modal asing yang keluar dari pasar ekuitas domestik.

Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang ekspansif sebagai salah satu faktor yang ikut menekan mata uang. Menurut Lukman, kombinasi sentimen tersebut membuat fase pelemahan rupiah berpotensi bertahan lebih lama selama tekanan global dan domestik belum turun.

Dampak langsung ke harga barang

Bagi konsumen, pelemahan rupiah biasanya paling cepat terasa pada barang konsumsi dan kebutuhan produksi. Saat biaya impor naik, pelaku usaha kerap menyesuaikan harga jual agar margin tetap terjaga.

Kondisi itu membuat harga barang impor berpotensi ikut terkerek, bersama bahan baku dan sejumlah produk turunan. Jika tekanan ini meluas, inflasi di dalam negeri juga bisa ikut meningkat dan beban masyarakat menjadi lebih berat.

Situasi pasar global memang sempat mendapat sedikit napas setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan militer ke Iran. Keputusan itu meredakan sebagian kekhawatiran pasar global dan memberi sentimen positif yang masih terbatas bagi aset berisiko.

Namun, dukungan tersebut belum cukup untuk mengubah arah pasar secara kuat. Lukman menilai rupiah masih punya peluang menguat bila ketegangan global terus mereda, tetapi arah pergerakannya tetap bergantung pada kekuatan sentimen luar negeri dan respons terhadap kebijakan domestik.

Pasar menunggu langkah Bank Indonesia

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini. Investor berharap bank sentral mengambil langkah yang bisa menahan pelemahan rupiah, termasuk melalui keputusan suku bunga acuan atau BI-Rate.

Ekspektasi terhadap kebijakan BI menjadi penting karena rupiah bergerak di tengah sentimen yang rapuh. Pasar menilai keputusan bank sentral dapat membantu memberi penyangga saat tekanan terhadap mata uang domestik masih tinggi.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Rentang itu menunjukkan pasar masih membaca pergerakan rupiah dengan hati-hati.

Tekanan regional belum ringan

Pelemahan rupiah juga terjadi ketika sejumlah mata uang Asia lain sama-sama berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat paling tertekan dengan koreksi 0,56 persen.

Di kawasan yang sama, dolar Taiwan melemah 0,19 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen, baht Thailand melemah 0,08 persen, dan dolar Hong Kong turun tipis 0,02 persen. Kondisi ini memperlihatkan tekanan pada mata uang regional masih cukup luas.

Bagi pasar domestik, arah rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh sentimen global, arus modal, dan langkah kebijakan dalam negeri. Selama faktor-faktor itu belum stabil, kekhawatiran soal kenaikan harga barang masih akan terus membayangi daya beli warga.

Source: www.suara.com
Exit mobile version