Tekanan terhadap Iran kini tidak hanya datang dari jalur diplomasi, tetapi juga dari laut. Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, dan langkah itu disebut menjadi salah satu alat tekan paling kuat dalam menghadapi kebuntuan dengan Teheran.
Donald Trump menyebut Iran sedang berupaya keras agar kesepakatan dengan Amerika Serikat bisa segera tercapai. Di saat yang sama, Washington tetap menempatkan pencegahan Iran memiliki senjata nuklir sebagai fokus utama, sementara pembicaraan yang sempat dibuka lagi belum juga menghasilkan terobosan.
Blokade laut jadi kartu tekan utama
Setelah negosiasi kembali macet, Washington tidak langsung mengumumkan dimulainya lagi permusuhan. Sebaliknya, AS memilih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran dan menjadikannya tekanan strategis yang dinilai lebih efektif daripada pengeboman.
Trump bahkan menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memilih mempertahankan blokade Angkatan Laut AS. Menurut laporan Axios, pembatasan itu bisa berlangsung berbulan-bulan dan memberi tekanan besar bagi Teheran dalam perundingan yang masih tersendat.
Dalam komentarnya, Trump menyebut langkah tersebut lebih efektif dibanding serangan udara. Ia juga menilai Iran sedang mencari jalan agar pembatasan di jalur pelayaran strategis itu segera dicabut.
Pembicaraan yang belum menghasilkan titik temu
Sebelum blokade makin menekan, Washington dan Teheran sempat kembali duduk dalam pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April. Pertemuan itu berlangsung setelah Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pertemuan tersebut tidak membawa kemajuan berarti. Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS, menyampaikan keesokan harinya bahwa kedua pihak gagal mencapai kesepakatan dan delegasi Amerika pulang tanpa terobosan.
Kebuntuan itu memperlihatkan betapa sempitnya ruang diplomasi yang tersedia. Di tengah situasi itu, pernyataan Trump bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan menjadi sinyal bahwa jalur perundingan masih dianggap terbuka, meski tekanannya terus meningkat.
Ketegangan militer makin mempersempit ruang diplomasi
Situasi antara AS, Israel, dan Iran memburuk setelah serangan pada 28 Februari yang disebut menyasar sejumlah titik di Iran, termasuk Teheran. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan korban sipil, lalu dibalas Iran dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Rangkaian serangan balasan tersebut membuat kondisi regional semakin rapuh. Di saat ketegangan militer meningkat, peluang kompromi di meja perundingan justru semakin mengecil karena masing-masing pihak bergerak dengan tekanan yang berbeda.
Trump tetap menegaskan bahwa perhatian utama Washington adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa tekanan militer dan diplomasi masih berjalan beriringan, meski keduanya belum menghasilkan titik temu.
Ekonomi Iran ikut merasakan dampaknya
Blokade laut tidak hanya memberi tekanan politik, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi Iran. Trump menyebut hambatan terhadap ekspor minyak membuat infrastruktur Iran berada dalam kondisi sangat rapuh, bahkan ia menggambarkannya nyaris meledak.
Efek pasar juga ikut terasa. Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun sebelum bertahan hingga Kamis, 30 April 2026, di tengah ketidakpastian atas pasokan energi.
Kondisi ini membuat blokade laut menjadi lebih dari sekadar alat militer. Bagi Teheran, pembatasan itu sekaligus mempersempit ruang gerak ekonomi dan menambah beban dalam upaya mencari jalan keluar dari kebuntuan diplomasi.
Washington belum menutup semua opsi
Di sisi lain, Trump diperkirakan menerima pengarahan dari Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, mengenai rencana baru untuk potensi aksi militer di Iran. Sumber yang mengetahui hal itu kepada Axios mengatakan pengarahan tersebut akan membahas opsi lanjutan ketika jalur diplomasi masih tertahan.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa Washington masih menyimpan sejumlah pilihan, meski tekanan terhadap Iran tetap dipertahankan. Situasi ini membuat hubungan AS dan Iran terus berada dalam fase sensitif, terutama karena jalur perundingan, blokade laut, dan ancaman eskalasi masih berjalan bersamaan.
Trump juga sempat berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin memperingatkan adanya “konsekuensi yang merusak” jika Amerika Serikat dan Israel melanjutkan perang terhadap Iran, menandakan bahwa ketegangan ini sudah menarik perhatian kekuatan besar lain di luar kawasan.
Source: www.viva.co.id




