Pasar perangkat elektronik di Indonesia sedang menghadapi tekanan baru seiring melemahnya rupiah. Smartphone dan laptop yang masih sangat bergantung pada komponen impor menjadi kelompok produk yang paling cepat merasakan dampaknya, meski perubahan harga di toko tidak selalu muncul serempak.
Di lapangan, konsumen masih bisa menjumpai harga lama pada unit yang stoknya belum berganti. Namun saat produk baru masuk atau restock dilakukan, penyesuaian harga mulai lebih mudah terlihat dan berpotensi berlanjut dalam pekan-pekan ini.
Tekanan biaya dari komponen impor
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menilai pelemahan rupiah akan mengerek biaya impor, baik untuk komponen maupun barang jadi. Kondisi itu kemudian dapat mendorong harga jual perangkat elektronik di pasar domestik.
Heru menekankan bahwa rantai pasok elektronik tidak lepas dari pengaruh pasar global. Komponen penting seperti chip, layar, dan baterai diperdagangkan dalam dolar Amerika Serikat, sehingga perubahan kurs sekecil apa pun bisa menambah beban biaya produksi dan distribusi.
Menurut Heru, beban itu tidak langsung muncul di etalase. “Dampaknya bisa tidak langsung terasa, karena stok lama masih dijual dengan harga sebelumnya,” kata Heru kepada Bisnis, Minggu (26/4/2026).
Kenaikan tidak datang sekaligus
Penyesuaian harga biasanya berjalan bertahap. Dalam banyak kasus, produk baru menjadi yang paling dulu mengalami kenaikan, lalu penyesuaian dapat merembet ke barang yang masuk pada periode restock beberapa minggu hingga bulan setelah rupiah melemah.
Kecepatan kenaikan juga tidak selalu sama antara satu vendor dan vendor lain. Skala impor, kontrak pembelian, serta efisiensi logistik ikut menentukan seberapa besar biaya tambahan akan diteruskan ke harga jual.
Perbedaan itu membuat konsumen tidak merasakan dampak pada waktu yang seragam. Ada vendor yang memilih menahan harga lebih lama untuk menjaga permintaan tetap stabil di tengah pasar yang sensitif.
Ruang vendor menahan harga masih ada
Sejumlah produsen dan penjual disebut kerap menyerap sebagian biaya tambahan agar harga tidak langsung naik. Mereka juga dapat menekan biaya operasional, menunda penyesuaian harga, atau mengandalkan promosi untuk menjaga minat beli.
Strategi lain seperti bundling dan peluncuran model baru juga sering dipakai untuk meredam tekanan biaya. Langkah-langkah tersebut memberi napas tambahan agar pasar tetap bergerak meski nilai rupiah sedang tertekan.
Meski begitu, Heru mengingatkan bahwa ruang penahanan harga tidak bisa berlangsung terus-menerus. “Namun, jika pelemahan rupiah berlangsung lama, kenaikan harga pada akhirnya sulit dihindari dan akan diteruskan ke konsumen secara langsung, sehingga harga naik dari sebelumnya,” ujarnya.
Rupiah belum stabil sepanjang April
Pantauan Bisnis menunjukkan rupiah bergerak fluktuatif sepanjang April 2026, tetapi arahnya cenderung melemah. Pada awal bulan, rupiah berada di kisaran Rp17.040–Rp17.070 per dolar AS dan sempat ditutup melemah di level Rp17.041.
Tekanan terhadap rupiah berlanjut hingga pertengahan bulan dengan pergerakan di kisaran Rp17.000–Rp17.100. Dalam perdagangan, rupiah bahkan sempat melemah lebih dalam mendekati Rp17.200.
Situasi ini membuat pasar elektronik berada dalam posisi rentan terhadap tambahan biaya. Selama ketergantungan pada impor masih besar, perubahan kurs rupiah berpotensi cepat merembes ke harga smartphone dan laptop yang dibeli konsumen di Indonesia.
Source: teknologi.bisnis.com




