Lampung kini masuk dalam peta penting pengembangan bioetanol nasional karena daerah ini dipilih sebagai basis awal proyek besar yang disiapkan pemerintah. Arah kebijakan tersebut tidak hanya menargetkan pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga pembentukan ekosistem bahan baku, teknologi, dan rantai pasok yang lebih rapi sejak awal.
Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Di saat yang sama, persiapan fisik proyek dijadwalkan mulai berjalan pada kuartal III 2026 dengan melibatkan konsorsium otomotif dan energi.
Lampung dipilih karena punya basis bahan baku
Keputusan menjadikan Lampung sebagai lokasi awal tidak lepas dari ketersediaan bahan baku yang dinilai cukup mendukung. Pemerintah menyoroti tebu, ubi, dan sorgum sebagai tiga komoditas yang bisa menopang pengembangan bioetanol secara bertahap.
Dengan modal tersebut, Lampung diproyeksikan menjadi titik awal sebelum ekspansi dilakukan ke wilayah lain. Skema ini dianggap lebih masuk akal karena pasokan bahan baku menjadi salah satu penentu utama keberhasilan proyek bioenergi.
Persiapan berjalan diam-diam selama setahun
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan bahwa persiapan proyek sudah berlangsung sekitar satu tahun. Proses itu dilakukan bersama mitra teknologi asal Jepang dan disebut berjalan secara tertutup pada fase awal pengembangan.
Dalam skema kerja sama tersebut, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM terhubung dengan Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy atau PNRE, serta Danantara Investment Management. PNRE juga disebut berkoordinasi dengan Japanese Group, sementara Toyota Tsuho ditetapkan sebagai mitra dengan dukungan teknologi dari RaBIT, konsorsium riset yang terdiri dari sejumlah perusahaan otomotif dan energi Jepang.
Todotua menilai dukungan teknologi dan investasi menjadi aspek penting karena proyek bioetanol tidak bisa berdiri hanya dengan satu sisi. Menurut dia, kepastian rantai pasok juga harus disiapkan sejak awal agar proyek tidak berhenti di tataran rencana.
Tahap awal difokuskan pada uji coba dan kesiapan skala besar
Pemerintah tidak langsung menyiapkan proyek ini dalam format produksi penuh. Dua fase pengembangan disusun agar proses uji coba, produksi, dan ekspansi berjalan lebih terukur.
Tahap pertama berupa proyek percontohan dengan kapasitas 60 kiloliter per tahun dan ditargetkan berjalan pada kuartal III 2027. Setelah itu, kapasitas akan ditingkatkan menjadi 60.000 kiloliter per tahun pada akhir 2028.
Skema bertahap ini menunjukkan bahwa proyek diposisikan sebagai langkah jangka panjang, bukan sekadar percobaan singkat. Pemerintah ingin pengembangan bioetanol di Lampung bergerak ke arah komersial dengan fondasi yang lebih siap.
Dukungan untuk mandatori campuran bahan bakar
Arah pembangunan bioetanol di Lampung juga terkait erat dengan kebijakan campuran bahan bakar yang lebih luas. Pemerintah menyiapkan proyek ini sebagai pijakan untuk mendukung mandatori E10 dan menjadi bagian dari peta jalan menuju E20 dalam jangka panjang.
Todotua menyebut agenda tersebut penting agar Indonesia siap menghadapi perubahan bauran energi. Ia menegaskan bahwa proyek ini didorong untuk memperkuat komitmen menuju mandatori E10.
Pemerintah juga melihat proyek ini sebagai cara menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Dalam penjelasan yang disampaikan pemerintah, impor bahan bakar Indonesia disebut mencapai 61 persen dalam sepuluh tahun terakhir.
Sorgum dan lahan PTPN jadi bagian dari hulu produksi
Selain pembangunan fasilitas, proyek bioetanol Lampung juga menyentuh sisi hulu melalui pengembangan sorgum. Tanaman itu akan ditanam di lahan milik PTPN sebagai bagian dari upaya menyiapkan bahan baku yang lebih terintegrasi.
Tahap awal penanaman dimulai di lahan seluas 10 hektare pada 2026. Setelah itu, luasnya ditargetkan berkembang menjadi 6.000 hektare untuk skala komersial pada tahun berikutnya.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa proyek ini dirancang sebagai ekosistem, bukan hanya satu pabrik. Dengan pola seperti itu, pasokan bahan baku, produksi, dan pengolahan dapat saling terhubung sejak awal.
Dari sisi industri, Toyota melihat kerja sama ini sebagai peluang memperkuat rantai pasok lokal dan membangun ekosistem bioenergi yang lebih luas. CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda juga menyebut kolaborasi di Indonesia sejalan dengan pendekatan Multi-Pathway Toyota menuju netralitas karbon.





