Tambang Masih Lesu, Astra UD Trucks Beri Porsi Lebih Besar ke Truk Distribusi Barang

Pasar logistik on-road kini menjadi tumpuan baru PT Astra UD Trucks saat permintaan dari sektor tambang melemah. Di tengah kondisi itu, perusahaan memilih menjaga langkah tetap realistis sambil mengalihkan fokus penjualan ke kebutuhan distribusi barang yang dinilai masih punya ruang tumbuh.

Arah baru tersebut muncul karena industri tambang sedang bergerak lebih hati-hati. Banyak perusahaan tambang disebut menahan ekspansi dan memilih wait and see akibat perubahan kebijakan yang memengaruhi kepastian usaha di sektor itu.

CEO Astra UD Trucks Bambang Widjanarko menjelaskan bahwa perusahaan sekarang memprioritaskan truk untuk kebutuhan on-road. Menurut dia, kondisi pasar tambang sedang berat sehingga pembelian armada baru di segmen itu ikut tertahan.

Tambang kehilangan tenaga

Selama ini, tambang termasuk salah satu pasar penting bagi Astra UD Trucks. Karena itu, ketika sektor tersebut melambat, perusahaan harus mencari sumber permintaan lain agar penjualan tetap bergerak.

Bambang menyebut banyak perusahaan tambang sedang “tiarap”. Sikap itu tidak lepas dari sejumlah kebijakan di dalam negeri yang ikut menambah kehati-hatian pelaku usaha.

Beberapa aturan yang disebut memengaruhi iklim usaha antara lain pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB batu bara dan nikel. Ada pula kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di bank-bank Himbara.

Selain itu, pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia juga ikut menjadi perhatian. Badan tersebut direncanakan menjadi eksportir tunggal batubara, kelapa sawit, serta ferro alloy.

Logistik masih menyisakan peluang

Di saat tambang menahan pembelian, Astra UD Trucks melihat logistik nasional justru masih bergerak. Perusahaan menilai kebutuhan armada untuk distribusi barang tetap berjalan dan di beberapa area malah meningkat.

Arah itu didorong oleh pandangan bahwa sektor logistik masih punya prospek yang lebih kuat. Bambang menegaskan fokus perusahaan tahun ini diarahkan ke segmen on-road, terutama untuk kebutuhan distribusi logistik.

Salah satu peluang yang ikut disorot adalah truk feeder untuk logistik kereta api. Kebutuhan seperti ini dinilai makin penting karena distribusi barang membutuhkan konektivitas dari dan ke jaringan transportasi utama.

Dari sisi industri, Ketua Umum Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia, Imam Sedayu Pusponegoro, sebelumnya menyebut logistik masih akan tumbuh dua digit pada 2026. Proyeksi pertumbuhan logistik nasional tahun ini juga berada di kisaran 9,3 persen dan masih berpeluang meningkat.

ALDEI menilai pertumbuhan ekonomi digital yang konsisten tinggi menjadi salah satu penopang utama sektor tersebut. Dengan dukungan itu, logistik bahkan dinilai bisa tumbuh di atas 10 persen pada tahun ini.

Target dijaga tetap wajar

Meski mengubah fokus ke logistik, Astra UD Trucks tidak mengambil langkah agresif dalam memasang target. Perusahaan memilih pendekatan hati-hati agar pertumbuhan tetap sehat di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya kuat.

Bambang mengatakan target perusahaan pada 2026 dibuat wajar. Sikap itu disusun dengan mempertimbangkan tekanan ekonomi sekaligus perubahan permintaan dari pasar yang selama ini jadi andalan.

Astra UD Trucks menargetkan penjualan hampir 1.200 unit truk. Angka itu sedikit lebih tinggi dibanding capaian tahun lalu yang berada di kisaran seribuan unit.

Target tersebut menunjukkan perusahaan masih melihat ruang pertumbuhan. Namun, perusahaan tetap menahan ekspektasi berlebihan dan menegaskan sikap prudent dalam menentukan sasaran.

Peralihan perhatian dari tambang ke logistik on-road memperlihatkan penyesuaian strategi yang cukup penting. Saat aktivitas tambang belum kembali agresif, Astra UD Trucks berusaha menangkap permintaan dari sektor yang perputarannya lebih cepat dan dekat dengan aktivitas konsumsi.

Source: www.suara.com
Exit mobile version