Dalam Perfect Crown, takhta justru membuat I An berada di titik yang paling berbahaya. Begitu duduk di posisi tertinggi, ia tidak hanya memikul simbol kekuasaan, tetapi juga membuka akses untuk menekan konflik yang selama ini berputar di dalam istana.
Daya tarik utama dari situasi ini bukan sekadar soal siapa yang naik, melainkan apa yang bisa dilakukan setelah itu. I An memandang kekuasaan sebagai alat untuk menjaga orang-orang terdekatnya, terutama Seong Hui Ju dan Yi Yoon, sehingga takhta baginya berarti perlindungan sekaligus peluang untuk mengubah arah pertarungan.
Takhta sebagai pintu masuk penyelidikan
Dua peristiwa besar terus membayangi lingkaran kerajaan, yaitu kasus keracunan dan kebakaran di istana. Pada hari pernikahannya, I An menyaksikan Seong Hui Ju kolaps setelah mengonsumsi obat dalam jumlah banyak, meski ia disebut sudah berhenti minum obat tidur.
Tidak lama setelah itu, I An sendiri menjadi korban kebakaran di dalam istana. Rangkaian kejadian ini membuat banyak dugaan mengarah ke kemungkinan adanya pelaku dari internal istana.
Masalahnya, penyidikan tidak bisa menjangkau keluarga kerajaan karena ada aturan yang membatasi. Jika I An berada di takhta, ia punya kuasa untuk memberi izin kepada pihak kepolisian agar dua kasus itu bisa diselidiki dengan lebih leluasa.
Tekanan dari jaringan yang sudah lama mengelilingi istana
Ancaman lain datang dari kubu yang terus menekan I An dari dalam. Yi Yoon berada di bawah kendali ibunya, Yoon Yi Rang, dan kakeknya, Yoon Sung Won, yang sama-sama memiliki agenda pribadi.
Keduanya berkali-kali menyerang I An di setiap kesempatan. Situasi itu diperkuat oleh banyaknya relasi yang dimiliki Yoon Yi Rang, sehingga istana terlihat seperti ruang yang dipenuhi jaringan pengaruh.
Dalam kondisi seperti itu, kursi kekuasaan justru menjadi senjata untuk membalik keadaan. Bila I An berkuasa penuh, ia dapat menyingkirkan Yoon Yi Rang dan Yoon Sung Won untuk membentuk lingkungan oposisi yang lebih sehat.
Namun, tindakan keduanya terhadap surat wasiat raja sebelumnya, Yi Hwan, masih menyisakan tanda tanya besar. Keraguan itu membuat bayang-bayang konflik politik di istana belum benar-benar selesai.
Seong Hui Ju justru menjadi penopang, bukan titik lemah
Berbeda dari ratu yang mudah dikendalikan, Seong Hui Ju tampil sebagai sosok yang kuat. Ia tumbuh di keluarga pebisnis dengan ambisi besar yang diwariskan ayahnya, Seong Hyeon Guk.
Seong Hui Ju dikenal mampu menjalankan dan membesarkan bisnis keluarganya dengan tangan dingin. Ia juga bukan sosok yang mudah dipengaruhi, sementara kepercayaannya kepada I An sangat tinggi.
Kondisi itu membuat posisinya di sisi I An tidak melemahkan, melainkan menguatkan. Berbeda dari ratu sebelumnya, Seong Hui Ju dan keluarganya tidak pernah menunjukkan ambisi untuk merebut kuasa di istana.
Modal legitimasi yang sudah lebih dulu terbentuk
Sebelum skandal kontrak pernikahan mencuat, I An sudah dikenal sebagai pangeran agung yang berkuasa. Ia berhasil merebut atensi dan kepercayaan publik dalam skala besar, lalu hubungan dengan Seong Hui Ju juga mendapat dukungan luas meski sempat ditolak.
Dari situ, dukungan publik bisa saja mengarah lebih kuat kepadanya saat ia berhasil membuktikan diri. Status sebagai keturunan langsung keluarga kerajaan yang masih hidup juga memberinya legitimasi yang sulit disaingi.
Karena itu, takhta dalam Perfect Crown tidak tampil sebagai hadiah yang aman. Posisi itu justru menempatkan I An di pusat perebutan kuasa, penyelidikan, loyalitas keluarga, dan legitimasi yang membuat dirinya makin menentukan ketika berada di puncak kerajaan.
Source: www.idntimes.com