Di tengah meningkatnya tekanan militer di sekitar Taiwan, Beijing kembali mengerahkan gugus tugas kapal induk Liaoning ke Pasifik Barat untuk latihan. Langkah itu menambah sorotan pada kawasan Indo-Pasifik yang sudah lama dipenuhi aktivitas militer China dari berbagai arah.
Angkatan laut China menyebut gugus tugas yang dipimpin Liaoning itu dikirim ke “perairan terkait” di Pasifik Barat. Beijing tidak mengungkap lokasi persisnya, tetapi mengatakan kapal-kapal tersebut akan melakukan tembakan langsung dan latihan lain untuk menguji serta meningkatkan kemampuan tempur nyata pasukan.
Militer China menyatakan latihan itu merupakan kegiatan rutin yang disusun sesuai rencana tahunan. Mereka juga menegaskan seluruh aktivitas tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan militer dalam menjalankan tugas dan disebut sepenuhnya sesuai dengan hukum serta praktik internasional.
Di saat yang sama, Taipei menempatkan manuver militer Beijing sebagai ancaman yang lebih luas daripada sekadar latihan biasa. Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai menilai China terus menggelar latihan militer dalam berbagai skala dan jenis di Selat Taiwan, Indo-Pasifik, Laut China Selatan, hingga sekitar Jepang.
Cho mengatakan pola itu mengganggu keselamatan navigasi dan memperbesar rasa tidak aman di kawasan. Ia menyampaikan pandangannya di Taipei menjelang peringatan dua tahun Lai Ching-te menjabat sebagai presiden Taiwan.
Menurut Cho, tekanan militer dan politik dari Beijing terus berlanjut. China memandang Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri, sementara dalam beberapa waktu terakhir Beijing juga memperkuat tekanannya dan menolak seruan dialog dari Lai, yang oleh China disebut sebagai “separatis”.
Meski begitu, Cho tetap menegaskan posisi Taiwan sebagai negara berdaulat dan independen. Ia menyebut Republik China, nama resmi Taiwan, memiliki kedudukan tersebut, sambil kembali menyerukan pembicaraan dengan Beijing.
Cho juga menekankan harapan agar kedua sisi Selat Taiwan tetap memiliki pertukaran yang sehat dan tertib. Baginya, dialog harus dibangun atas dasar kesetaraan dan martabat agar hubungan tidak terus memburuk.
Pernyataan keras dari Taipei muncul beriringan dengan agenda politik Lai pada Rabu pagi untuk menandai dua tahun masa jabatannya. Kantor kepresidenan menyebut Lai akan memaparkan visi nasional masa depan dan arah kebijakan pemerintah dalam pidato serta konferensi pers itu.
Di dalam negeri, Lai menghadapi tantangan dari oposisi yang memegang kursi terbanyak di parlemen. Dengan kekuatan itu, oposisi kerap menghambat rencana pemerintah, terutama terkait belanja pertahanan, sekaligus mendorong rancangan undang-undang mereka sendiri.
Pada hari yang sama, upaya parlemen untuk memakzulkan Lai gagal. Pemungutan suara itu bersifat simbolis karena membutuhkan dukungan dua pertiga anggota parlemen, sementara oposisi tidak memiliki jumlah suara yang cukup.
Kantor Urusan Taiwan China belum langsung menanggapi pernyataan Cho. Namun, rangkaian peristiwa ini menunjukkan bagaimana isu keamanan Taiwan, latihan militer China, dan tarik-menarik politik di Taipei saling berkelindan dalam situasi yang tetap tegang.