Pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Beijing kembali menempatkan Taiwan sebagai titik paling rawan dalam hubungan Amerika Serikat dan China. Beijing menilai cara Washington menangani isu itu akan sangat menentukan apakah hubungan kedua negara tetap stabil atau justru memasuki babak gesekan baru.
Sinyal tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Kamis. Ia menegaskan bahwa kedua pemimpin telah menyepakati visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis.
Taiwan menjadi ukuran utama bagi Beijing
Dalam pandangan Beijing, stabilitas strategis berarti hubungan yang tetap positif dan menjadikan kerja sama sebagai arus utama. Karena itu, isu Taiwan tidak ditempatkan sebagai persoalan sampingan, melainkan sebagai penentu arah keseluruhan relasi bilateral.
Guo mengatakan hubungan kedua negara akan tetap terkendali jika isu Taiwan dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika penanganannya keliru, gesekan bahkan konflik bisa muncul dan mengganggu hubungan secara luas.
Pernyataan Beijing juga memperlihatkan sikap keras atas isu tersebut. Guo menyebut “kemerdekaan Taiwan” dan perdamaian di Selat Taiwan tidak bisa didamaikan, seperti api dan air.
Pertemuan berlangsung tertutup dan beragenda padat
Xi dan Trump bertemu di Balai Besar Rakyat pada Kamis, 14 Mei 2026, dengan upacara kenegaraan yang dimulai pukul 10.00 waktu setempat. Setelah itu, keduanya melanjutkan pembicaraan bilateral selama sekitar dua jam 15 menit.
Agenda tidak berhenti di sana. Pertemuan kemudian berlanjut ke Kuil Langit di Beijing dan jamuan makan malam kenegaraan.
Meski rangkaian acara berlangsung padat, Beijing dan Washington tidak membuka rincian isi pembahasan di dalam ruangan. Namun, keduanya sama-sama menekankan pentingnya hubungan yang bersahabat dan stabil.
Pesan untuk tiga tahun ke depan
Guo menyebut pertemuan itu akan menjadi panduan strategis bagi hubungan kedua negara dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya. China, menurut dia, siap menerjemahkan visi tersebut ke langkah nyata agar hubungan bilateral berjalan stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Pernyataan itu menunjukkan keinginan Beijing untuk menjaga komunikasi tetap terbuka. Hal ini dinilai penting karena isu Taiwan sewaktu-waktu dapat memicu ketegangan yang lebih besar.
Kalkulasi China tampak jelas: keberhasilan mengelola satu isu ini bisa menentukan apakah hubungan dengan AS tetap terkendali atau masuk ke fase gesekan baru. Di saat yang sama, Beijing ingin memastikan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan tetap menjadi titik temu yang dijaga kedua pihak.
Isu ekonomi tetap ikut terbawa
Kehadiran Trump bersama 17 pimpinan perusahaan besar asal AS dalam kunjungannya ke China juga memberi sinyal bahwa faktor ekonomi tetap masuk dalam agenda. Rombongan bisnis itu menunjukkan bahwa hubungan dagang masih dipandang sebagai penopang penting di tengah perbedaan politik yang tajam.
Selain Taiwan, Xi dan Trump juga membahas sejumlah isu internasional lain. Topik yang ikut masuk pembicaraan antara lain situasi di Timur Tengah, Iran, dan perdagangan daging sapi AS.
Guo mengatakan Xi meminta kedua negara memperluas pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang. Sektor ekonomi, perdagangan, dan pertanian disebut sebagai area yang bisa diperkuat untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.
Dengan begitu, pembicaraan di Beijing memperlihatkan dua lapis kepentingan sekaligus. Di satu sisi ada Taiwan yang menjadi poros sensitif, sementara di sisi lain ada ekonomi dan isu global yang tetap dijaga agar hubungan China-AS tidak sepenuhnya ditarik ke arah konfrontasi.
Source: www.viva.co.id




