Kekhawatiran atas tagihan energi di Jerman kembali naik setelah harga gas di pasar ikut terdorong oleh memburuknya situasi keamanan di kawasan Teluk. Dampaknya terasa di Eropa karena jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz menjadi semakin rawan.
Selat Hormuz memegang peran penting dalam arus minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar dunia. Ketika jalur itu terganggu, pasar energi langsung bereaksi karena pasokan yang lewat di sana sangat besar dan sensitif terhadap gangguan.
Di tengah ketegangan Iran-Israel, pasar melihat adanya blokade de facto di selat tersebut. Kondisi ini membuat harga energi di Eropa tertekan, sementara Jerman ikut merasakan lonjakan pada kontrak gas baru.
Kepala Badan Jaringan Federal Jerman, Mueller, menyebut dampak konflik di Iran terasa langsung bagi semua pihak yang membeli gas di bursa. Ia menilai kenaikan harga itu sebagai konsekuensi dari situasi keamanan yang memburuk di kawasan Teluk.
Mueller juga mengatakan sebagian besar rumah tangga di Jerman masih terlindungi harga gasnya setidaknya selama 12 bulan. Meski begitu, perlindungan itu tidak berlaku tanpa batas karena pelanggan yang segera memperbarui kontrak energi tetap menghadapi risiko harga yang lebih tinggi.
“Akan tetapi, jika kontrak baru disepakati, maka harga bisa naik,” kata Mueller dalam wawancara dengan grup media RND. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tekanan pasar sudah mulai merembes ke negosiasi kontrak baru, baik untuk rumah tangga maupun korporasi.
Situasi di Timur Tengah semakin menempatkan Selat Hormuz sebagai titik paling rawan dalam distribusi energi global. Jalur itu disebut sebagai nadi distribusi sekitar 20% konsumsi minyak dunia, sehingga setiap gangguan di sana cepat memicu kekhawatiran pasar.
Serangan militer saling berbalas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memperburuk keadaan. Rangkaian aksi itu menekan jalur logistik energi dan memunculkan hambatan besar bagi keluar-masuk komoditas energi cair dari Teluk Persia.
Bagi Jerman, risiko yang paling terasa bukan hanya kenaikan harga gas, tetapi juga beban ekonomi tambahan yang dapat menekan daya beli masyarakat. Sebagai ekonomi terbesar di Eropa, negara itu sangat peka terhadap perubahan harga energi di pasar internasional.
Mueller mencoba menenangkan publik dengan menyebut lonjakan kali ini belum tentu secepat krisis energi akibat perang di Ukraina. Namun tekanan terhadap rumah tangga dan pelaku usaha tetap nyata, terutama saat kontrak energi harus diperbarui di tengah harga pasar yang tinggi.
Eropa pun kembali menghadapi bayang-bayang krisis energi baru. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, pasar tetap rentan terhadap gejolak yang bisa langsung tercermin pada tagihan energi rumah tangga dan biaya operasional bisnis.
Source: www.suara.com




