Penutupan pemberangkatan haji Embarkasi Surabaya tahun ini tidak hanya menandai berakhirnya perjalanan 116 kloter ke Arab Saudi, tetapi juga menempatkan Jawa Timur dalam sorotan karena menjadi provinsi dengan jumlah pemberangkatan terbanyak di Indonesia. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut seluruh rangkaian itu selesai setelah kloter 116 diberangkatkan dari Surabaya.
Kloter terakhir tersebut berisi jamaah asal Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Dengan pelepasan itu, Embarkasi Surabaya resmi menuntaskan seluruh proses pemberangkatan jamaah haji untuk musim ini menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
Khofifah, yang juga Koordinator PPIH Embarkasi Surabaya, menyampaikan rasa syukur atas tambahan kuota haji untuk Jawa Timur dari Pemerintah Arab Saudi. Ia menilai tambahan itu berkaitan dengan ketentuan undang-undang haji yang memprioritaskan daftar tunggu terpanjang.
Menurut Khofifah, Jawa Timur termasuk daerah dengan antrean panjang yang ikut diprioritaskan. Ia menyebut tambahan kuota itu secara hitungan mencapai sekitar 8.000 jemaah, sehingga memberi ruang lebih besar bagi warga Jawa Timur yang sudah lama menunggu giliran berangkat.
Saat melepas keberangkatan di Asrama Haji Surabaya, Kamis (21/5), Khofifah berharap jamaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lancar. Ia juga menyinggung situasi di Timur Tengah yang masih diwarnai konflik wilayah.
Dalam kesempatan itu, Khofifah meminta doa agar para jamaah diberi kesehatan, kelancaran, dan predikat haji mabrur. Ia juga mengajak jamaah mendoakan Indonesia agar tetap aman dan damai.
Di sisi lain, proses pemberangkatan tahun ini juga diwarnai sejumlah jamaah yang tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ketua PPIH Embarkasi Surabaya sekaligus Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Timur, As’adul Anam, menyampaikan ada 30 jamaah yang gagal berangkat pada musim haji ini.
Sebagian dari mereka mundur karena tidak memiliki pendamping. Sebagian lainnya tertunda setelah tiba di embarkasi lalu jatuh sakit, termasuk jamaah dengan kondisi demensia, hamil, dan sakit jantung.
As’adul menilai kondisi kesehatan menjadi salah satu faktor utama yang membuat sebagian calon jamaah harus menunda keberangkatan. Situasi itu menunjukkan bahwa keberangkatan haji tidak hanya ditentukan oleh jadwal kloter, tetapi juga kesiapan fisik jamaah.
As’adul juga melaporkan hingga Kamis (21/5) terdapat 14 jamaah Embarkasi Surabaya yang meninggal dunia. Satu jamaah wafat di RSUD Haji Surabaya, sedangkan 13 jamaah lainnya meninggal di Arab Saudi.
Catatan itu melengkapi rangkaian akhir penyelenggaraan haji Embarkasi Surabaya tahun ini. Setelah 116 kloter diberangkatkan, proses keberangkatan dari embarkasi tersebut resmi tuntas untuk musim haji kali ini.
Source: www.jawapos.com