Transmisi penurunan BI Rate ke bunga kredit perbankan belum bergerak secepat yang diharapkan. Walau arah suku bunga sudah menurun, bank masih menghadapi biaya pendanaan yang mahal sehingga penyesuaian bunga pinjaman berlangsung bertahap.
Data terbaru menunjukkan rata-rata suku bunga kredit rupiah pada Februari 2026 berada di 8,80 persen. Angka itu memang lebih rendah 44 basis poin dibanding periode yang sama sebelumnya yang masih 9,22 persen, tetapi penurunannya belum terasa merata di semua jenis pinjaman.
Biaya dana masih menjadi hambatan utama
Otoritas Jasa Keuangan menilai faktor paling besar yang menahan turunnya bunga kredit adalah biaya dana atau cost of fund. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa setiap bank punya strategi pendanaan yang berbeda, sehingga kecepatan penurunan bunga kredit juga tidak seragam.
Menurut Dian, transmisi dari suku bunga acuan ke bunga kredit bisa tertahan ketika persaingan menghimpun dana simpanan masih ketat. Dalam kondisi seperti itu, bank cenderung memberi special rate kepada nasabah besar agar dana mereka tidak berpindah ke lembaga lain.
Tekanan tersebut terlihat dari struktur pendanaan perbankan yang belum sepenuhnya ringan. Meski rerata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga rupiah turun 41 basis poin secara tahunan menjadi 2,68 persen pada Februari 2026, penurunan itu belum cukup untuk mendorong bunga kredit turun lebih cepat.
Deposito bergerak lebih cepat daripada kredit
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelonggaran moneter tetap berjalan. Ia menyebut suku bunga deposito 1 bulan turun dari 4,81 persen pada awal Januari 2025 menjadi 4,19 persen pada Maret 2026.
Penurunan pada deposito itu setara 62 basis poin, lebih besar dibanding bunga kredit yang pada periode sama turun dari 9,20 persen menjadi 8,76 persen. Selisih laju tersebut menunjukkan biaya dana bergerak lebih cepat daripada bunga pinjaman, sehingga efek ke dunia usaha dan rumah tangga belum terasa seoptimal yang diharapkan.
Perry juga menjelaskan bahwa porsi special rate masih cukup besar, yakni 26,30 persen dari total DPK. Komposisi ini membuat ruang penurunan bunga kredit belum terbuka lebar karena sebagian dana bank masih dibeli dengan harga yang relatif tinggi.
Ada jeda dalam penyesuaian bunga pinjaman
OJK juga menilai penurunan BI Rate tidak otomatis langsung tercermin ke bunga kredit. Dian menyatakan bahwa industri perbankan umumnya membutuhkan beberapa periode sebelum menyesuaikan suku bunga pinjaman, sehingga dampak penuh pelonggaran moneter belum seluruhnya terlihat saat ini.
BI Rate sendiri bertahan di 4,75 persen sejak September 2025. Kondisi itu masih memberi ruang bagi penurunan lanjutan pada 2026, tetapi ruang tersebut baru akan lebih terasa jika biaya pendanaan bank ikut turun dan likuiditas tetap mendukung.
Bank Indonesia menilai likuiditas perbankan masih longgar dan membantu transmisi kebijakan. Meski demikian, kecepatan respons tiap bank tetap berbeda karena dipengaruhi struktur dana, profil risiko, dan strategi bisnis masing-masing.
Dana murah menjadi penentu berikutnya
OJK menilai penguatan dana murah atau current account saving account bisa mempercepat turunnya bunga kredit. Jika porsi dana murah bertambah, biaya pendanaan bank ikut menurun dan ruang untuk menyesuaikan bunga pinjaman menjadi lebih besar.
Dian mengatakan bank perlu mengoptimalkan strategi pendanaan agar komposisi dana murah meningkat. Dengan struktur dana yang lebih efisien, penurunan bunga kredit berpeluang bergerak lebih cepat dan memberi dampak yang lebih nyata bagi pelaku usaha maupun rumah tangga.
Di saat yang sama, OJK juga mendorong transparansi melalui Suku Bunga Dasar Kredit. Lewat POJK Nomor 13 Tahun 2024, komponen perhitungan SBDK distandardisasi agar lebih mudah dibandingkan antarbank.
Bank juga wajib mengumumkan komponen pembentuk SBDK pada sumber yang mudah diakses masyarakat dan pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan memperkuat disiplin pasar sekaligus mendorong persaingan yang lebih sehat dalam penentuan bunga.
Selama biaya dana masih mahal dan porsi special rate masih besar, penurunan bunga kredit kemungkinan tetap berjalan pelan. Karena itu, perhatian utama pasar kini masih tertuju pada cost of fund, penguatan dana murah, dan efisiensi pendanaan bank agar bunga pinjaman bisa turun lebih cepat.