Pemeriksaan kesehatan terhadap jemaah calon haji asal Jawa Timur di Embarkasi Surabaya menunjukkan sebagian besar tetap aman untuk melanjutkan perjalanan. Dari 33 jemaah yang sempat masuk klinik karena keluhan kelelahan dan hipertensi, tim medis memastikan mereka masih memenuhi syarat untuk terbang.
Keluhan yang muncul umumnya berkaitan dengan kondisi tubuh yang menurun setelah perjalanan dari daerah asal menuju asrama haji. Kepala BBKK Surabaya, dr Rosidi Roslan, menjelaskan bahwa pusing akibat tekanan darah tinggi dan rasa lelah menjadi temuan yang paling sering ditemui pada jemaah yang datang untuk diperiksa.
Pemeriksaan tetap dilakukan meski ada keluhan
Petugas kesehatan langsung memberikan penanganan lanjutan kepada jemaah yang mengeluhkan kondisi tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa mereka tidak masuk kategori risiko tinggi, sehingga tetap dinyatakan layak mengikuti proses keberangkatan.
BBKK Surabaya menegaskan bahwa keputusan itu diambil setelah pemeriksaan menyeluruh dilakukan. Rosidi menyampaikan bahwa seluruh jemaah yang sempat diperiksa sudah mendapat izin untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.
“Jadi semuanya dalam keadaan layak terbang ya. Kita sudah mengizinkan, sudah periksa semua,” kata Rosidi di Embarkasi Surabaya.
Skrining awal jadi dasar penilaian
Sebelum diberangkatkan, para jemaah sudah melalui skrining kesehatan sebagai bagian dari persiapan menuju ibadah haji. Pemeriksaan awal ini dipakai sebagai acuan untuk menilai kesiapan fisik masing-masing calon haji, terutama sebelum masuk ke tahap keberangkatan dari asrama.
Selama hasil skrining menunjukkan kondisi aman, jemaah tetap diizinkan terbang. Petugas juga mengingatkan agar para jemaah menjaga istirahat dan asupan makanan agar tubuh kembali stabil setelah menempuh perjalanan jauh.
Pemantauan jemaah hamil ikut diperketat
Di luar penanganan kasus kelelahan dan hipertensi, petugas juga memberi perhatian khusus kepada jemaah perempuan yang sedang hamil. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko keguguran, mengingat rangkaian ibadah haji membutuhkan tenaga yang besar.
BBKK Surabaya menetapkan batas usia kehamilan yang masih dapat ditoleransi untuk keberangkatan, yaitu di bawah 26 minggu. Hingga pemeriksaan berlangsung, belum ditemukan jemaah hamil pada kloter yang sudah masuk ke asrama.
Kloter awal dinilai masih aman
Secara umum, kondisi jemaah dari kloter 1 hingga 6 disebut masih aman oleh petugas kesehatan. Rosidi juga menyampaikan bahwa kloter pertama dan kedua sudah selesai diberangkatkan, sementara jemaah yang sempat diperiksa tetap berada dalam status sehat.
Pengawasan dilakukan sejak pemeriksaan awal di asrama hingga tahap memastikan kesiapan fisik sebelum berangkat. Proses ini menjadi bagian penting untuk menjaga kelancaran keberangkatan sekaligus menekan risiko gangguan kesehatan selama perjalanan ibadah.
Data BBKK Surabaya menunjukkan bahwa 33 jemaah yang sempat mendapat penanganan di klinik tetap bisa terbang setelah kondisi mereka dinilai stabil oleh tim medis.
Source: www.cnnindonesia.com