Skor Work-Life Balance Amerika Serikat Anjlok, Hanya Selangkah Dari Posisi Terbawah Dunia 2026

Keseimbangan hidup dan kerja di banyak negara ternyata masih jauh dari ideal, dan daftar terbaru menunjukkan jurang yang cukup lebar antara negara dengan perlindungan pekerja kuat dan negara yang warganya masih dibebani jam kerja panjang. Dalam Global Life-Work Balance Index 2025 dari Remote.com, Selandia Baru kembali berada di posisi teratas, sementara Amerika Serikat justru nyaris menyentuh dasar daftar.

Peringkat ini memakai skor komposit berbasis 100 poin untuk menilai seberapa baik sebuah negara menjaga keseimbangan hidup warganya. Hasilnya memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi besar tidak selalu sejalan dengan kualitas hidup kerja yang baik.

Amerika Serikat merosot terus

Sorotan terbesar datang dari Amerika Serikat yang menempati posisi ke-59 dari 60 ekonomi terbesar yang dinilai. Negara itu hanya satu tingkat di atas Nigeria, dengan skor 31,17.

Kondisi tersebut juga menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Amerika Serikat berada di peringkat 53 pada 2023, lalu turun ke posisi 55 pada 2024, sebelum merosot lagi ke urutan 59 pada 2025.

Salah satu alasan yang paling menonjol adalah ketiadaan kewajiban federal untuk cuti berbayar dan cuti melahirkan. Perlindungan dasar pekerja di negara itu dinilai masih lemah, sehingga banyak orang tetap harus menghadapi tekanan kerja tanpa dukungan yang memadai.

Nigeria berada paling bawah

Di posisi terakhir, Nigeria mencatat skor 30,07. Negara itu dinilai terpukul oleh akses kesehatan yang minim, jatah cuti yang sangat sedikit, dan persoalan keamanan yang ikut menekan kehidupan pekerja.

Gabungan faktor tersebut membuat Nigeria menjadi negara dengan work-life balance paling suram dalam daftar ini. Selisihnya dengan Amerika Serikat memang tipis, tetapi cukup untuk menempatkan Amerika Serikat di atas Nigeria.

Asia dan Timur Tengah ikut masuk zona merah

Sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah juga muncul di kelompok dengan keseimbangan hidup kerja yang rendah. China, India, Qatar, dan Uni Emirat Arab termasuk di antara negara-negara dengan beban kerja paling tinggi.

China hanya memberi rata-rata cuti tahunan 5 hari bagi karyawan yang baru bekerja satu tahun. Jam kerja mingguan di negara itu juga mencapai 46,1 jam, yang ikut mempersempit ruang istirahat pekerja.

India menghadapi pola yang serupa dengan durasi kerja 45,7 jam per minggu. Di saat yang sama, upah minimum di negara itu hanya sekitar 0,27 dollar AS per jam.

Uni Emirat Arab juga mencatat jam kerja yang bisa menyentuh 49 jam per minggu. Meski begitu, tingkat kebahagiaan di negara itu tetap cenderung lebih baik karena didukung sistem proteksi sosial yang kuat bagi penduduknya.

Mengapa skor bisa jatuh

Remote.com menilai rendahnya work-life balance biasanya lahir dari gabungan beberapa tekanan. Jam kerja panjang dan cuti yang terbatas menjadi hambatan paling nyata bagi pekerja untuk beristirahat.

Di luar itu, rendahnya standar upah dan sulitnya akses layanan kesehatan ikut memperburuk kualitas hidup secara menyeluruh. Faktor sosial seperti keamanan lingkungan dan inklusivitas tempat kerja juga memengaruhi kebahagiaan karyawan dalam jangka panjang.

Indonesia masih berada di tengah

Indonesia belum masuk 20 besar negara dengan work-life balance terburuk. Skor Indonesia berada di angka 51,22 dan menempatkannya di peringkat ke-35 dari 60 negara yang dianalisis.

Posisi itu membuat Indonesia masih berada di atas Vietnam yang berada di urutan 39 dan Thailand di posisi 40. Namun, Indonesia tetap tertinggal dari Singapura yang menempati peringkat 27 dan Malaysia di urutan 29.

Di puncak daftar, Selandia Baru kembali menjadi negara dengan work-life balance terbaik dengan skor 86,59. Irlandia menyusul di posisi kedua dengan skor 81,17, jauh di atas negara-negara yang berada di dasar daftar.

Exit mobile version