Kekalahan Jannik Sinner di Roland Garros bukan sekadar soal hilang momentum, tetapi juga soal tubuh yang tak lagi mendukung permainan terbaiknya. Petenis nomor satu dunia itu sempat berada di jalur kemenangan besar saat unggul dua set dan memegang kendali atas Juan Manuel Cerundolo, sebelum gangguan fisik di panas Paris mengubah arah pertandingan sepenuhnya.
Cerundolo akhirnya memanfaatkan situasi itu untuk melakukan kebangkitan besar. Unggulan 56 ATP yang juga adik Francisco Cerundolo tersebut menutup laga dengan kemenangan 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1 dalam duel yang berlangsung 3 jam 36 menit.
Sinner sempat terlihat sangat dominan
Pada awal pertandingan, Sinner tampil dengan ritme yang rapi dan efisien. Ia nyaman dari garis belakang, kuat di servis, dan sesekali naik ke depan dengan variasi permainan serta drop-shot yang membuat Cerundolo kesulitan mengimbangi.
Dua set pertama berjalan relatif mulus untuk petenis Italia itu. Dengan kendali permainan yang tampak stabil, Sinner sempat unggul 6-3, 6-2, lalu memperlebar jarak di set ketiga hingga 5-2.
Masalah fisik mengubah semuanya
Situasi mulai berbalik saat Sinner berada di posisi sangat dekat dengan kemenangan. Di momen itu, kondisi tubuhnya menurun tajam dan ia mulai menunjukkan gejala yang menyerupai serangan panas dan kram.
Kakinya disebut tidak lagi bekerja normal, lalu muncul rasa mual dan keinginan muntah. Ia sempat tertinggal 0-40, menghentikan permainan, berbicara dengan wasit, dan meminta fisioterapis untuk datang ke lapangan.
Sinner bahkan mengucapkan, “Devo vomitare,” sebelum keluar lapangan untuk mendapat penanganan. Tim medis kemudian menilai masalah utama yang dialaminya adalah kram, sehingga perawatan tidak berlanjut sampai tuntas.
Cerundolo membaca perubahan momentum
Begitu Sinner kembali, level permainannya sudah tidak sama. Cerundolo langsung menangkap perubahan itu dan mulai membalikkan tekanan dari satu gim ke gim berikutnya.
Kebangkitan petenis Argentina tersebut terus menguat hingga laga berakhir. Dari kondisi tertinggal jauh, ia justru menutup pertandingan dengan sangat meyakinkan dan memastikan tiket ke putaran berikutnya, sementara Sinner harus tersingkir lebih cepat dari Paris.
Hasil ini juga menunda ambisi Sinner untuk melengkapi Career Grand Slam. Kekalahan tersebut terasa semakin mengejutkan karena sebelum tampil di Roland Garros, ia datang dengan catatan 30 kemenangan dan lima gelar beruntun dalam dua setengah bulan terakhir.
Catatan itu menunjukkan betapa besar perubahan yang terjadi di pertandingan ini. Saat Sinner sudah tampak menguasai jalannya laga, gangguan fisik memberi Cerundolo celah untuk mengambil alih dan mengubah duel yang semula berat sebelah menjadi comeback yang tak banyak diperkirakan.
Source: www.gazzetta.it




