Di Guam, lenyapnya raja udang mikronesia dari alam liar bukan sekadar soal hilangnya satu jenis burung. Satwa yang juga dikenal masyarakat setempat sebagai sihek itu merupakan bagian dari identitas pulau, sehingga kepunahannya di habitat asli meninggalkan dampak budaya dan konservasi yang sama-sama besar.
Burung ini endemik Guam di barat Samudra Pasifik, wilayah yang berada di timur laut Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Todiramphus cinnamominus, dan dalam kelompok raja udang di Pasifik barat, sebutan “raja udang mikronesia” juga dipakai untuk beberapa spesies lain seperti raja udang pohnpei dan raja udang palau.
Tubuh kecil dengan ciri yang mudah dikenali
Secara fisik, raja udang mikronesia memiliki tubuh gemuk, kepala besar, dan paruh tebal runcing seperti belati. Panjang tubuhnya sekitar 20—24 sentimeter dengan berat 50—76 gram.
Warna bulunya menjadi penanda paling mencolok. Punggungnya biru berkilauan, sedangkan kepala berwarna kayu manis kemerahan, dengan perbedaan warna jantan dan betina yang cukup jelas.
Dulu hidup luas di berbagai tipe habitat
Sebelum populasinya merosot tajam, burung ini bisa ditemukan di hampir semua jenis habitat hutan di Guam. Lingkup hidupnya mencakup hutan dewasa, hutan sekunder di substrat batu kapur dan vulkanik, hutan tepi sungai, sampai kebun besar yang memiliki banyak pepohonan.
Makanannya juga beragam untuk ukuran raja udang. Mangsa utamanya adalah kadal dan serangga, terutama belalang dan tonggeret.
Suara pagi yang dekat dengan kehidupan warga
Raja udang mikronesia dikenal memiliki kicauan serak dan keras yang biasa terdengar saat fajar. Smithsonian National Zoo & Conservation Biology Institute menyebut burung ini berkicau sangat teratur pada waktu yang sama setiap pagi.
Keteraturan suara itu bahkan masuk ke kepercayaan setempat. Bagi warga Guam, kehadiran sihek dulu membantu menunjukkan waktu, sehingga burung ini punya hubungan yang erat dengan kehidupan harian masyarakat pulau.
Cara bersarang dan tantangan membesarkan anak
Untuk membuat sarang, burung ini memilih pohon dengan kayu lunak atau lapuk. Kadang, sarang rayap yang menempel di pohon juga dimanfaatkan, lalu lubang sarang dibuat dengan menusuk kulit pohon menggunakan paruh besar sambil terbang.
Dalam satu sarang, raja udang mikronesia biasanya menghasilkan 1—3 butir telur. Namun, yang berhasil tumbuh dewasa umumnya hanya satu anak burung karena sibling rivalry yang berakhir fatal.
Predator asing yang mengubah nasibnya
Penyebab utama hilangnya raja udang mikronesia dari alam liar adalah ular pohon cokelat atau Boiga irregularis. Ular ini diperkenalkan ke Guam sekitar tahun 1940-an dan membuat burung asli pulau yang selama ribuan tahun tidak memiliki predator alami menjadi sangat rentan.
Dampaknya sangat cepat terlihat. Raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar pada 1988, dan sekitar 29 ekor yang masih tersisa saat itu diselamatkan ke penangkaran.
Ancaman di Guam tidak berhenti pada ular. Kucing juga menjadi bahaya tambahan, sementara kualitas hutan ikut menurun akibat rusa, babi, dan hewan invasif lain yang juga diperkenalkan ke pulau itu.
Upaya menjaga spesies ini tetap bertahan
Meski hilang dari habitat aslinya, upaya konservasi masih berjalan. Pada 2024, beberapa ekor raja udang mikronesia diperkenalkan ke atol Palmyra di Samudra Pasifik bagian utara.
Lokasi itu dipilih karena ekosistem darat dan lautnya sehat, bebas predator invasif, dan memiliki habitat hutan yang mirip Guam. Dari sana, raja udang mikronesia menjadi contoh nyata betapa besar dampak spesies invasif terhadap satwa asli pulau.
Source: www.idntimes.com




