Seringai Hadir Dengan Dua Gitaris Baru, Anastasis Menjawab Duka Setelah Kepergian Ricky

Konser peluncuran album terbaru IV: ANASTASIS di M Bloc Live House, Jakarta, Kamis (23/3/2026), langsung menjawab satu pertanyaan besar dari para penggemar: bagaimana Seringai melangkah setelah ditinggal Ricky Siahaan. Malam itu bukan hanya panggung perilisan album, melainkan juga penanda bahwa band ini memilih terus berjalan dengan susunan baru yang tetap menjaga identitas mereka.

Yang membuat pertunjukan ini terasa berbeda adalah keberanian Seringai menampilkan format live yang lebih lebar. Arian 13, Sammy, dan Edy Khemod tampil bersama dua gitaris tambahan, Angga Kusuma dan Darma Respati, sehingga panggung terlihat lebih penuh dan dinamis.

Susunan itu tidak sekadar hadir sebagai pengganti, melainkan sebagai bentuk penyesuaian yang matang. Chemistry antarpersonel tampak terjaga sejak awal, dan perpaduan lima personel memberi ruang lebih luas bagi karakter musik Seringai di atas panggung.

Panggung pembuka yang membawa konteks emosional

Sebelum Seringai naik sekitar pukul 20.00, penonton lebih dulu disambut oleh BongaBonga, Masakre, dan Stepforward. Urutan ini memberi lapisan emosional tersendiri, karena Ricky Siahaan pernah menjadi gitaris di Stepforward.

Stepforward tampil bersama Jill, Fajar, dan Junas, lalu menghadirkan gitaris baru mereka, Roma Sophiaan, yang dikenal sebagai salah satu sahabat dekat Ricky. Rangkaian penampil malam itu membuat konser terasa punya hubungan kuat dengan sejarah musikal dan lingkar pertemanan Ricky, bukan hanya berfokus pada peluncuran album.

Setlist yang merangkai masa lalu dan arah baru

Seringai membuka penampilan dengan Intro dan “Program Party Seringai”, lalu bergerak ke lagu-lagu lama seperti “Berhenti di 15”, “Mengadili Persepsi”, dan “Akselerasi Maksimum”. Setelah itu, band langsung memperkenalkan dua lagu baru dari IV: ANASTASIS, yaitu “Melunaskan Dendam” dan “Membungkam 98”.

Pilihan lagu semacam ini menunjukkan pola yang terukur. Materi lama tetap dipertahankan untuk menjaga kedekatan dengan penggemar lama, sementara lagu baru memperjelas bahwa album ini bukan sekadar rilis tambahan, melainkan bagian penting dari fase berikutnya.

Secara keseluruhan, susunan lagu tersebut juga menegaskan bahwa Seringai tidak memutus hubungan dengan identitas yang sudah dibangun. Band ini justru menghubungkan katalog lama dengan materi anyar dalam satu alur yang terasa utuh di atas panggung.

Momen paling senyap saat “Akar” dimainkan

Salah satu titik paling emosional terjadi ketika Seringai membawakan “Akar”, lagu yang ditulis oleh Ricky Siahaan dan dimasukkan ke IV: ANASTASIS. Saat bagian ini dimainkan, suasana berubah hening dan perhatian penonton tertuju pada visual yang mendukung momen tersebut.

Gitar akustik Angga Kusuma mengiringi tampilan gambar gitar Gibson SG dan topi yang sering dipakai Ricky. Kehadiran elemen visual itu membuat “Akar” terasa lebih dari sekadar lagu album baru, karena juga menjadi ruang untuk mengingat jejak Ricky dalam perjalanan band.

Penutup yang jelas ditujukan sebagai penghormatan

Seringai menutup konser dengan “Selamanya”, dan bagian akhir itu kembali mengarah pada sosok Ricky Siahaan. Pada lagu penutup, visual latar menampilkan foto Ricky bersama gitar kesayangannya, sehingga pesan penghormatan terasa terbuka dan tegas.

Dari awal hingga akhir, konser peluncuran IV: ANASTASIS memperlihatkan bahwa Seringai berada dalam fase transisi yang terjaga. Formasi baru memberi tenaga tambahan di panggung, sementara lagu-lagu dan visual malam itu tetap menempatkan Ricky sebagai bagian penting dari cerita yang sedang dilanjutkan band ini.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version