Serangan Ke Tanker China Picu Kekhawatiran Baru, Selat Hormuz Kembali Guncang Pasar Minyak Dunia

Serangan terhadap sebuah tanker minyak milik perusahaan China kembali menyorot rapuhnya keamanan pelayaran di salah satu jalur energi paling vital di dunia. Insiden itu terjadi di dekat Pelabuhan Al Jeer, Uni Emirat Arab, dan memicu kebakaran di bagian dek kapal, menurut media China Caixin.

Kapal tersebut membawa tanda “China Owner & Crew” di lambungnya, tetapi penandaan itu tidak mencegahnya menjadi sasaran. Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran bahwa risiko di Selat Hormuz tidak lagi hanya mengancam pihak yang terlibat langsung dalam ketegangan kawasan.

Selat Hormuz memang berada di posisi yang sangat sensitif bagi perdagangan minyak dunia. Jalur ini menjadi titik transit penting bagi tanker dari pelabuhan besar di Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, sebelum energi dari Timur Tengah bergerak ke pasar internasional.

Setiap gangguan di kawasan ini selalu mendapat perhatian luas karena sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak dunia diperkirakan melintas di sana setiap hari. Dengan volume sebesar itu, satu insiden saja sudah cukup untuk memicu kegelisahan di pasar energi global.

Situasi di sekitar selat itu juga belum benar-benar tenang. Ketegangan memburuk sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, lalu gencatan senjata pada 7 April 2026 belum diikuti kepastian baru dari perundingan lanjutan di Islamabad.

Presiden Donald Trump disebut memperpanjang masa penghentian konflik agar Iran bisa menyampaikan usulan gabungan. Namun, proses yang masih buntu membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris lumpuh dan menambah ketidakpastian bagi jalur pasokan energi.

Dampaknya tidak berhenti pada satu kapal yang terbakar di dek. Komunitas global tetap bergantung pada kelancaran pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah, sehingga gangguan di titik sempit ini langsung memunculkan kekhawatiran yang lebih luas.

Jika negosiasi di Islamabad tetap tidak menghasilkan titik temu, bayangan blokade de facto di Selat Hormuz dapat bertahan lebih lama. Kondisi itu berpotensi menekan pasar energi dunia lebih jauh dan menjaga inflasi energi tetap tinggi.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button