Insiden di Tayri kembali memusatkan perhatian pada keselamatan jurnalis yang bekerja di wilayah konflik. Dalam peristiwa itu, jurnalis Amal Khalil dari surat kabar Al Akhbar tewas setelah serangan udara di Lebanon Selatan, sementara fotografer lepas Zeinab Faraj mengalami luka dan harus dievakuasi dalam situasi yang masih berbahaya.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam langsung menanggapi serangan tersebut dengan tuduhan keras kepada Israel. Melalui pernyataan di media sosial, ia menyebut penembakan ke arah area saat tim penyelamat berupaya mendekat sebagai tindakan yang sangat serius dan menggambarkannya sebagai “kejahatan perang yang nyata”.
Nawaf Salam menilai pola serangan seperti itu bukan hal baru dalam ketegangan di perbatasan. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pekerja media, lalu penembakan ke area saat proses penyelamatan berlangsung, menunjukkan tindakan yang tidak bisa dianggap biasa.
Laporan National News Agency atau NNA menyebut proses evakuasi Zeinab Faraj berlangsung di bawah tembakan yang masih terdengar di sekitar lokasi. Tim Palang Merah disebut harus membawa Faraj ke rumah sakit ketika situasi di Tayri belum benar-benar aman bagi petugas darurat.
Pemerintah Lebanon juga menuduh militer Israel menghambat kerja tim penyelamat yang berusaha menjangkau korban di antara reruntuhan. Dalam insiden itu, serangan tidak hanya merusak lokasi tempat para jurnalis berlindung, tetapi juga memunculkan korban dari kalangan sipil.
Dari sisi lain, militer Israel membantah bahwa jurnalis menjadi sasaran. Dalam keterangan resminya, pihak Israel menyatakan operasi itu diarahkan pada struktur yang diduga menjadi basis militer Hezbollah.
Israel juga menyebut mereka mendeteksi dua kendaraan mencurigakan yang mendekati posisi pasukan mereka. Pihak militer mengatakan tindakan yang diambil bertujuan mengurangi risiko terhadap jurnalis sekaligus menjaga keselamatan pasukan.
Sikap berbeda disampaikan Committee to Protect Journalists atau CPJ. Organisasi itu meminta pertanggungjawaban atas insiden di Tayri dan menilai pasukan Israel bertanggung jawab atas bahaya yang menimpa Amal Khalil serta luka yang dialami Zeinab Faraj.
Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, mengatakan serangan itu mengarah ke lokasi tempat para jurnalis berada. Pandangan ini memperkuat sorotan terhadap risiko yang terus dihadapi pekerja media saat meliput kekerasan di Lebanon Selatan.
Nama Amal Khalil menambah daftar panjang korban di kalangan jurnalis. CPJ menyebut ia menjadi pekerja media keempat yang tewas akibat tindakan militer Israel sejak Maret.
Data CPJ juga menunjukkan Israel bertanggung jawab atas dua pertiga dari total kematian jurnalis dan pekerja media sepanjang 2025. Angka itu menggambarkan besarnya ancaman yang membayangi profesi jurnalis di tengah konflik bersenjata dan memperlihatkan betapa sulitnya memastikan keselamatan mereka saat bertugas.
Insiden di Tayri terjadi di tengah masa gencatan senjata 10 hari yang sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu semestinya membuka ruang dialog diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Hezbollah, dengan rencana perundingan lanjutan di Washington.
Di tengah situasi tersebut, pakar PBB mendesak investigasi internasional yang independen untuk mengusut rangkaian pembunuhan wartawan di Lebanon. Peristiwa yang menewaskan Amal Khalil dan melukai Zeinab Faraj kembali menegaskan bahwa perlindungan jurnalis di zona konflik masih menjadi persoalan mendesak yang belum mendapat jawaban memadai.
Source: www.suara.com