Serangan Di Jalur Kereta Quetta Memperpanjang Luka Keamanan Balochistan, Pakistan Kian Tertekan

Balochistan kembali menunjukkan betapa rapuhnya keamanan Pakistan saat sebuah ledakan menghantam kereta pengangkut tentara di Quetta. Serangan itu menambah daftar panjang insiden yang membuat provinsi barat daya ini terus berada di bawah sorotan nasional dan internasional.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Sedikitnya 24 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya luka-luka, sementara rumah sakit umum Quetta sempat memberlakukan status darurat karena korban terus berdatangan.

Ledakan itu juga memicu kerusakan besar di sekitar jalur kereta. Sejumlah rumah dan bangunan di dekat lokasi ikut hancur, beberapa gerbong terbalik dan terbakar, dan rekaman yang beredar memperlihatkan kendaraan hangus diselimuti asap hitam tebal.

Serangan terjadi pada momen yang sangat sensitif bagi Islamabad. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif saat itu sedang berada dalam kunjungan empat hari ke China, sehari sebelum pertemuannya di Beijing dengan Presiden Xi Jinping untuk menandai 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Di tengah situasi tersebut, Balochistan Liberation Army atau BLA mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu. Kelompok separatis ini telah lama menolak kendali pusat dan juga menentang investasi besar-besaran China di wilayah tersebut.

Shehbaz Sharif mengecam serangan itu melalui unggahan di X. Ia menegaskan bahwa aksi seperti ini tidak akan menggoyahkan tekad rakyat Pakistan untuk menghapus terorisme dalam segala bentuknya.

Tekanan terhadap jalur vital

Kasus di Quetta memperlihatkan bahwa infrastruktur transportasi tetap menjadi sasaran penting di Balochistan. Jalur-jalur di provinsi ini sudah lama dipakai kelompok bersenjata untuk menunjukkan kemampuan mereka menekan negara dan mengganggu mobilitas militer maupun sipil.

Yunas Samad, profesor emeritus South Asian Studies di University of Bradford, menilai bahwa jika laporan awal tentang bom bunuh diri benar, pola itu sejalan dengan taktik yang makin sering dipakai organisasi pemberontak di kawasan tersebut. Namun, laporan resmi soal jenis ledakan itu belum dikonfirmasi.

Kekhawatiran juga bertambah karena BLA bukan pemain baru dalam konflik ini. Pada 2022, kelompok tersebut sempat menyerbu pangkalan tentara dan angkatan laut, lalu pada Agustus 2024 melancarkan serangan terkoordinasi di seluruh Balochistan.

Kekerasan yang terus menguat

Lonjakan serangan di Balochistan tidak muncul tiba-tiba. Pakistan Institute for Peace Studies mencatat sedikitnya 254 serangan di provinsi itu pada 2025, atau sekitar 26 persen lebih banyak dibanding 2024.

ACLED juga melaporkan bahwa kelompok separatis memperkuat tekanan terhadap pasukan keamanan. Dalam 11 bulan pertama 2025, serangan dengan alat peledak rakitan dan granat naik lebih dari 65 persen dibanding periode yang sama pada 2024.

Global Terrorism Index tahun ini turut mencatat aktivitas kelompok bersenjata Baloch di Pakistan meningkat pada 2025. Dalam laporan 2026, BLA disebut bertanggung jawab atas serangan terbesar di Pakistan pada 2025, yakni pembajakan kereta Jaffar Express dari Quetta ke Peshawar pada Maret.

Peristiwa Jaffar Express menunjukkan bagaimana target transportasi bisa menjadi titik tekan yang efektif. BLA mengklaim enam personel militer tewas dan ratusan penumpang disandera ketika kereta yang membawa 400 penumpang itu dibajak.

Samad menilai aparat Pakistan tampaknya sudah memperketat keamanan di sekitar infrastruktur transportasi, personel militer, dan jalur komunikasi utama setelah serangan sebelumnya. Meski begitu, serangan terbaru menandakan kelompok militan masih memiliki kapasitas operasional yang besar.

Akar konflik yang panjang

BLA menyebut diri berjuang untuk kemerdekaan Balochistan, provinsi di barat daya Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran. Kelompok ini memiliki sayap bunuh diri bernama Majeed Brigade dan menjadi yang terbesar di antara sejumlah kelompok separatis etnis yang telah melawan pemerintah federal selama puluhan tahun.

Wilayah pegunungan di perbatasan Balochistan kerap disebut sebagai tempat aman dan pusat pelatihan bagi pejuang separatis Baloch maupun kelompok bersenjata Islamis. Di luar provinsi itu, BLA juga pernah menyerang Karachi, termasuk dengan penggunaan pengebom bunuh diri perempuan dalam serangan terhadap warga China di kota pelabuhan itu.

Amerika Serikat menetapkan BLA sebagai organisasi teroris asing pada Agustus 2025, langkah yang disambut pemerintah Pakistan. Penetapan itu menambah bobot tekanan internasional terhadap kelompok yang sudah lama memicu instabilitas di wilayah tersebut.

Balochistan sendiri adalah provinsi terbesar Pakistan dari sisi wilayah, tetapi paling kecil jumlah penduduknya. Sekitar 15 juta orang tinggal di sana, dari total populasi Pakistan sekitar 240 juta berdasarkan sensus 2023.

Meski kaya batu bara, emas, tembaga, dan gas, Balochistan tetap menjadi wilayah termiskin di Pakistan. BLA menilai hasil sumber daya alam itu mengalir tidak adil ke pemerintah federal dan menolak kontrol pusat atas ekstraksi sumber daya serta keamanan.

Posisi provinsi ini juga sangat penting bagi China karena menjadi lokasi pelabuhan laut dalam Gwadar. Pelabuhan itu merupakan koridor dagang utama bagi investasi China senilai 65 miliar dolar AS di China-Pakistan Economic Corridor, bagian dari Belt and Road Initiative milik Presiden Xi Jinping.

China-Pakistan Economic Corridor juga menghubungkan wilayah Xinjiang di China dengan pelabuhan Gwadar di Laut Arab. Di tengah proyek-proyek itu, serangan terhadap pekerja China dan fasilitas yang terkait Beijing ikut meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Balochistan dianeksasi Pakistan pada 1948, enam bulan setelah pemisahan dari India pada Agustus 1947. Sejak itu, provinsi ini mengalami sedikitnya lima pemberontakan separatis dan lama menghadapi tuduhan marginalisasi.

Sentimen separatis menguat pada 2000-an ketika BLA tumbuh di bawah Balach Marri, putra tokoh nasionalis Baloch Nawab Khair Bakhsh Marri. Setelah pemerintah militer Pervez Musharraf menewaskan tokoh nasionalis Nawab Akbar Bugti pada 2006, gerakan separatis makin membesar.

Para analis menilai persoalan Balochistan kini dapat mempersulit upaya Pakistan menjaga arus investasi dari China dan Amerika Serikat jika instabilitas terus memburuk. Di saat yang sama, wilayah ini juga menyimpan taruhannya sendiri dalam persaingan mineral global karena diyakini memiliki 12 dari 17 mineral tanah jarang yang penting untuk baterai, jam, kabel, perangkat militer, ponsel, dan semikonduktor.

Exit mobile version