Torino kembali menunjukkan mengapa markas mereka begitu menyulitkan lawan. Saat menghadapi Sassuolo di Stadion Olimpico Grande Torino, tim Granata tetap tenang setelah sempat tertinggal dan akhirnya menutup laga dengan kemenangan 2-1.
Hasil ini bukan sekadar tiga poin biasa. Torino kini mengoleksi 13 poin dari 15 poin maksimal di kandang, sebuah catatan yang menegaskan betapa stabilnya mereka saat bermain di depan pendukung sendiri.
Sassuolo sebenarnya memulai pertandingan dengan dorongan yang kuat. Peluang cepat langsung muncul pada menit kedua ketika kombinasi Volpato dan Pinamonti hampir menghasilkan gol, tetapi Paleari masih mampu menggagalkannya.
Tekanan awal itu membuat laga berjalan dengan tempo tinggi. Torino juga sempat mendapat ancaman pada menit ke-12 melalui sundulan Njie, dan dua kali bola membentur mistar gawang sebelum babak pertama berakhir tanpa gol.
Kebuntuan pecah setelah jeda ketika Kristian Thorstvedt membawa Sassuolo unggul lebih dulu. Gelandang itu memanfaatkan umpan dari Lipani dan bola pantul di dalam kotak penalti untuk menembus pertahanan Torino.
Tertinggal satu gol membuat Torino menaikkan intensitas permainan. Roberto D’Aversa kemudian memasukkan Duvan Zapata untuk menambah daya dobrak, dan perubahan itu ikut menghidupkan serangan tuan rumah.
Respons Torino datang cepat. Giovanni Simeone menyamakan kedudukan lewat sundulan pada menit ke-21 setelah menerima umpan dari Ebosse.
Stadion langsung bergemuruh lagi hanya empat menit berselang. Marcus Pedersen menyelesaikan kebangkitan Torino dengan tandukan kepala dan memastikan timnya berbalik unggul 2-1.
Bagi Pedersen, gol itu terasa spesial karena menjadi yang pertama baginya di kompetisi sepak bola Italia. Bek asal Norwegia tersebut juga pernah membela Sassuolo, sehingga golnya menambah warna pada hasil akhir pertandingan.
Skor 2-1 bertahan sampai pertandingan selesai dan memberi Torino tambahan kepercayaan diri yang besar. Kemenangan ini juga membuat mereka menyamai raihan 44 poin yang pernah dicapai pada musim sebelumnya.
Di ruang evaluasi, D’Aversa menilai hasil tersebut lahir dari kerja harian tim dan konsistensi performa di kandang. Ia juga menegaskan bahwa Torino perlu membidik posisi yang lebih tinggi di klasemen, karena sekadar aman dari ancaman degradasi tidak cukup untuk klub dengan identitas besar seperti Granata.
Bekal kemenangan ini menjadi penting saat Torino bersiap menghadapi laga derbi di Stadion Grande Torino pada pekan terakhir. Performa kandang yang impresif memberi mereka modal tambahan untuk memperbaiki posisi di klasemen akhir Serie A musim 2026.





