Final Singapore Open berakhir dengan satu rasa yang campur aduk bagi Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Mereka sudah berada sangat dekat dengan gelar, namun laju apik itu terhenti setelah kalah dari pasangan India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, di partai puncak.
Pertandingan di Singapore Indoor Stadium berjalan ketat dan menuntut konsentrasi tinggi sejak awal. Fajar/Fikri sempat memberi harapan besar lewat kemenangan pada gim pertama, tetapi keunggulan itu tidak cukup untuk menahan kebangkitan lawan.
Awal yang menjanjikan berubah di tengah laga
Fajar/Fikri memulai final dengan rapi dan berhasil merebut gim pembuka 21-18. Hasil itu sempat membuat peluang Indonesia membawa pulang gelar terlihat terbuka lebar, apalagi mereka tampil cukup percaya diri pada fase awal pertandingan.
Namun, situasi berubah ketika Satwik/Chirag mulai menemukan ritme permainan yang lebih solid. Pasangan India itu membalas dengan menang 17-21 pada gim kedua, lalu menutup laga dengan skor 16-21 di gim ketiga.
Pergantian momentum menjadi faktor penting dalam pertandingan ini. Setelah unggul lebih dulu, Fajar/Fikri tidak lagi mampu menjaga dominasi seperti yang mereka tunjukkan pada gim pertama.
Tekanan lawan jadi pembeda
Satwik/Chirag tampil sangat agresif dan membuat Fajar/Fikri sering berada dalam posisi bertahan. Tekanan itu memaksa pasangan Indonesia lebih sering mengangkat bola, sehingga lawan mendapat banyak peluang untuk langsung menyerang.
Usai laga, Fajar menilai lawannya bermain sangat percaya diri dan memiliki serangan yang sangat mematikan. Ia juga menyebut beberapa kali dirinya dan Fikri harus mengangkat bola yang langsung dimanfaatkan oleh pasangan India itu.
Fikri juga melihat hal yang sama dari sisi permainan lawan. Menurut dia, berbagai upaya sudah dilakukan untuk keluar dari tekanan, tetapi Satwik/Chirag tetap mampu menjaga level permainan dengan sangat baik.
Indonesia pulang tanpa gelar
Kekalahan Fajar/Fikri membuat Indonesia gagal meraih gelar dari Singapore Open 2026. Mereka juga menjadi wakil terakhir Merah Putih di turnamen itu karena tidak ada pasangan Indonesia lain yang berhasil menembus final pada empat sektor lainnya.
Hasil runner-up itu memang belum cukup untuk menghadirkan trofi, tetapi tetap menunjukkan bahwa Fajar/Fikri mampu bersaing di level elite. Di tengah persaingan ketat, mereka tetap sanggup menembus partai puncak dan memberi perlawanan pada pasangan papan atas.
Fokus berikutnya sudah menanti
Meski gagal juara, hasil di Singapore tetap memberi modal bagi Fajar/Fikri untuk menjaga ritme permainan. Status runner-up bisa menjadi bekal penting saat mereka masuk ke agenda besar berikutnya pada musim ini.
Fajar menegaskan masih ada banyak target yang ingin dikejar pasangan ini sepanjang tahun ini. Ia juga menyoroti Indonesia Open yang sudah menunggu minggu depan sebagai tantangan terdekat.
Perjalanan di Singapore Open 2026 memperlihatkan satu hal penting bagi Fajar/Fikri: mereka bisa membuka pertandingan besar dengan sangat baik, tetapi masih harus menjaga konsistensi ketika lawan mulai menaikkan tekanan. Di level setinggi ini, detail kecil pada momen krusial terbukti sangat menentukan hasil akhir.
Source: www.viva.co.id




