Dorongan agar Indonesia memakai jalur diplomasi internasional untuk membebaskan sembilan warga negara Indonesia yang ditahan militer Israel kini menguat. Salah satu pintu yang paling disorot adalah Board of Peace, karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Di tengah situasi itu, pemerintah disebut sudah merespons dengan menyiapkan langkah pelepasan melalui jalur khusus. Kementerian Luar Negeri Indonesia juga berjanji mengerahkan instrumen yang ada agar para WNI itu segera dipulangkan.
Penahanan sembilan WNI tersebut terjadi saat mereka mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza. Armada itu dicegat militer Israel di laut lepas ketika masih berada sekitar 460 kilometer sebelum mencapai garis pantai Gaza.
Pusat misi Global Sumud Flotilla menyebut armada mereka diserang dalam agresi ilegal di wilayah laut bebas. Mereka menilai penghadangan bersenjata itu terjadi di zona maritim internasional yang semestinya tidak menjadi sasaran operasi militer.
Israel membantah gambaran itu dan menuduh pelayaran sipil tersebut bermuatan provokasi politik. Tel Aviv juga mengklaim misi itu dirancang untuk memberi dukungan strategis kepada Hamas.
Pihak keluarga membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan misi itu murni membawa bantuan logistik untuk warga sipil Palestina, bukan senjata maupun kepentingan militer.
Sutrawati Kaharuddin, ibu dari Andi Angga Prasadewa yang ikut ditangkap, mengatakan putranya hanya membawa bantuan kemanusiaan. “Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan, obat-obatan untuk orang yang membutuhkan di Palestina,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian nasib para relawan dan jurnalis, keluarga memilih tetap tenang. Harapannya, para WNI bisa menjaga kondisi fisik dan psikologis selama berada dalam tahanan dan menjalani interogasi.
Hany Hanifah Humanisa, ibu dari Thoudy Bada Rifanbillahi yang juga jurnalis Republika dan ikut dalam misi itu, mengaku sempat menahan izin saat anaknya hendak berangkat. Ia khawatir militer Israel akan bertindak di luar batas.
“Thoudy orangnya tenang,” kata Hany, seraya menambahkan bahwa dirinya sempat takut anaknya disakiti secara fisik. Ia kemudian memberi izin setelah melihat keseriusan dan keyakinan anaknya untuk menjalankan tugas liputan.
Hany juga menyebut keluarga dan pihak terkait sempat berkomunikasi dengan awak kapal beberapa jam sebelum penyergapan terjadi. Dalam pesan terakhir, para relawan mengabarkan bahwa mereka masih berada di perairan internasional.
Ia berharap Thoudy dan rekan-rekannya tetap mampu mengendalikan diri selama berada di bawah interogasi. “Jangan sampai dia kehilangan kontrol dirinya yang bisa menyebabkan kerugian buat dirinya dan teman-teman-nya,” ujarnya.
Keterlibatan jurnalis dalam misi ini kembali memperlihatkan tingginya risiko kerja jurnalistik di wilayah konflik. Keputusan untuk ikut berlayar bukan hanya soal liputan, tetapi juga soal keberanian menghadapi ancaman di lapangan.
Hany mengatakan putranya sempat batal berlayar pada pertengahan tahun lalu karena tidak mendapat izin darinya. Namun, saat penugasan liputan kembali datang, izin akhirnya diberikan setelah obrolan panjang tentang risiko dan tujuan keberangkatan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi ujian terbaru dalam menjalankan diplomasi kemanusiaan tanpa jalur hubungan langsung dengan Israel. Karena itu, tekanan agar pemerintah memanfaatkan Board of Peace dan jejaring internasional lain terus menguat demi memastikan sembilan WNI itu bisa segera kembali dengan selamat.
Source: www.suara.com