Kepergian Bernardo Silva dari Manchester City pada akhir musim ini menutup salah satu masa bakti paling panjang dan berpengaruh di skuad The Cityzens. Setelah sembilan tahun, gelandang asal Portugal itu akan berpisah karena kontraknya tidak diperpanjang dan status bebas transfer membukakan jalan untuk mencari klub baru.
Momen ini terasa besar bukan hanya bagi klub, tetapi juga bagi Bernardo sendiri. Ia mengakui berat meninggalkan Manchester City, klub yang selama hampir satu dekade ia anggap sebagai rumah.
Ikatan yang Terbentuk di Etihad
Perasaan itu tidak muncul dalam waktu singkat. Bernardo menjelaskan bahwa kedekatannya dengan Manchester City tumbuh seiring perjalanan kariernya sejak pertama kali datang ke Inggris.
Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya akan tetap menjadi pendukung Manchester City untuk sisa hidupnya. Dalam perpisahan yang juga ia sampaikan melalui laman resmi klub, Bernardo berbicara dengan nada emosional dan menyampaikan terima kasih kepada klub, staf, serta para suporter.
Pernyataannya menunjukkan betapa kuat hubungan yang terbangun selama sembilan tahun. Bagi Bernardo, meninggalkan City berarti menutup babak yang sangat personal sekaligus sangat berarti dalam hidup dan kariernya.
Dari AS Monaco ke Pilar Lini Tengah
Bernardo Silva pertama kali bergabung dengan Manchester City pada Juli 2017 setelah direkrut dari AS Monaco. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu pemain kunci yang memberi pengaruh besar di lini tengah.
Catatan penampilannya memperlihatkan betapa penting perannya dalam tim. Bernardo tampil dalam 459 pertandingan di semua kompetisi, dengan sumbangan 76 gol dan 77 assist.
Angka itu mencerminkan kontribusinya yang konsisten, baik dalam membangun serangan maupun menyelesaikan peluang. Selama bertahun-tahun, ia menjadi bagian dari struktur permainan City yang sulit dipisahkan dari keberhasilan tim.
Trofi yang Mengiringi Perjalanan Panjang
Peran besar Bernardo juga diikuti koleksi gelar yang sangat kaya. Bersama Manchester City, ia meraih satu Liga Champions, enam gelar Premier League, satu Piala Dunia Antarklub, tiga Piala FA, lima Piala Liga Inggris, dan tiga Community Shield.
Deretan trofi tersebut menempatkannya di kelompok pemain paling sukses dalam sejarah modern klub. Dalam konteks itu, kepergiannya tidak sekadar menandai berakhirnya kontrak, tetapi juga peralihan dari satu era penting di Etihad Stadium.
Meski akan meninggalkan Manchester City, Bernardo pergi dengan status yang tidak berubah di mata pendukungnya sendiri. Ia meninggalkan jejak besar di lapangan, dan juga hubungan emosional yang membuat perpisahan ini terasa berat bagi kedua pihak.





