Selat Hormuz Memanas, Emas Dunia Tertekan Turun 1,9 Persen

Lonjakan ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang pasar komoditas dan membuat emas kehilangan daya tariknya dalam perdagangan awal pekan. Di pasar spot, harga emas dunia turun sekitar 1,9 persen ke level 4.740 dollar AS per troy ons, menghapus kenaikan yang sempat terbentuk pada pekan sebelumnya.

Tekanan itu muncul saat perhatian investor tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat penting bagi distribusi energi global. Kekhawatiran meningkat setelah penembakan kapal kargo memicu kepanikan dan membuat pasar menilai risiko gangguan pasokan semakin besar.

Selat Hormuz kembali jadi pusat kecemasan

Situasi di kawasan tersebut memburuk setelah juru bicara kepresidenan Iran, Mehdi Tabatabaei, menegaskan bahwa “Selat Hormuz sepenuhnya tertutup”. Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran bahwa arus perdagangan energi bisa terganggu dalam waktu dekat.

Ketidakpastian makin tinggi karena beberapa jam sebelumnya jalur yang sama sempat dilaporkan terbuka untuk umum. Pergantian informasi yang cepat seperti ini membuat pasar bereaksi keras, terutama karena ketegangan di kawasan juga berkaitan dengan Amerika Serikat, Iran, dan serangan Israel di Lebanon.

Emas tertekan saat sentimen perang bergeser cepat

Pergerakan emas menunjukkan bahwa sebagian investor memilih melepas aset lindung nilai ketika isu konflik kembali mendominasi perdagangan. Analis pasar Capital.com, Kyle Rodda, menyebut kondisi tersebut sebagai pola reaksi yang umum ketika sentimen perang kembali menguasai pasar.

Rodda mengatakan, “Transaksi berbasis sentimen perang kembali terjadi, dan itu berarti emas sedang dilepas”. Menurut dia, volatilitas masih berpotensi tinggi karena harga sangat bergantung pada kabar terbaru dari kawasan yang menjadi sumber ketidakpastian itu.

Dalam kondisi seperti ini, emas bisa bergerak tajam ke dua arah hanya karena perubahan informasi geopolitik. Itu membuat logam mulia tersebut rentan terhadap pergeseran sikap investor dalam jangka pendek.

Minyak naik tajam, dolar ikut menambah tekanan

Di saat emas melemah, harga minyak mentah Brent justru melonjak 6,8 persen hingga kisaran 96 dollar AS per barel. Kenaikan itu mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat pasokan energi.

Lonjakan harga energi juga memunculkan risiko inflasi global yang lebih tinggi. Jika tekanan tersebut bertahan, bank sentral bisa terdorong mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Pada saat yang sama, indeks dollar AS menguat sekitar 0,2 hingga 0,3 persen. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga minat beli terhadap logam mulia itu ikut tertekan.

Pasar masih menimbang arah kebijakan dan inflasi

Head of cross asset strategy Amundi, Lorenzo Portelli, menilai dampak inflasi dari kenaikan energi kemungkinan tidak akan bertahan lama. Ia menyebut tekanan harga dari energi cenderung bersifat sementara, bukan berlanjut dalam waktu panjang.

Portelli juga menilai inflasi inti masih berada di level yang relatif stabil dan terkendali. Karena itu, pasar belum melihat alasan kuat bagi bank sentral untuk mengambil langkah moneter yang terlalu agresif dalam waktu dekat.

Meski begitu, arah harga emas tetap sangat dipengaruhi perkembangan terbaru dari Selat Hormuz. Selama jalur tersebut masih memicu ketidakpastian, pasar akan terus mencermati kombinasi antara risiko geopolitik, penguatan dolar AS, dan ekspektasi suku bunga.

Exit mobile version