Sekolah Pra Nikah Di Ungaran Disokong DPRD Jateng, Upaya Cegah Pernikahan Dini dan Perkuat Keluarga

Antusiasme anak muda terhadap Sekolah Pra Nikah di Ungaran menjadi sinyal bahwa isu kesiapan membangun keluarga mulai mendapat tempat lebih luas. Program ini menarik 110 pendaftar, mayoritas dari kalangan pemuda-pemudi di berbagai wilayah Kabupaten Semarang.

Di tengah masih kuatnya perhatian pada pernikahan dini, pembekalan sebelum menikah dipandang penting sebagai bagian dari upaya memperkuat keluarga sejak awal. Pandangan itu mengemuka dalam Grand Launching Sekolah Pra Nikah yang dihadiri Komisi E DPRD Jawa Tengah.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Ida Nurul Farida, menilai kesiapan menikah tidak cukup dilihat dari urusan administrasi maupun seremoni. Menurut dia, bekal mental dan pengetahuan sebelum masuk ke rumah tangga akan memengaruhi pola asuh anak dan kualitas keluarga di kemudian hari.

Ida melihat pendidikan pra-nikah sebagai langkah jangka panjang untuk daerah. Dari sana, ia menilai bisa lahir generasi penerus yang lebih berkualitas karena pasangan dibentuk lebih siap menghadapi kehidupan berkeluarga.

Ia juga menegaskan bahwa pernikahan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada status atau romantisme. Dalam pandangannya, pernikahan adalah amanah, ibadah, dan perjalanan seumur hidup yang menuntut kedewasaan menyeluruh.

Penguatan keluarga dari ruang pendidikan

Program Sekolah Pra Nikah ini sejalan dengan bidang kerja Komisi E DPRD Jawa Tengah yang membawahi kesejahteraan rakyat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan. Dari ruang kerja tersebut, isu ketahanan keluarga menjadi salah satu perhatian yang terus mengemuka.

Dukungan terhadap program itu juga datang dari sejumlah tokoh yang hadir dalam acara di Ungaran. Mereka adalah Anggota DPRD Kabupaten Semarang Musyarofah, Ketua Forum Ayah Ungaran Saeful Huda selaku penyelenggara, serta budayawan sekaligus akademisi Dr Phil Habiburrahman El Shirazy Lc atau Kang Abik.

Kehadiran berbagai unsur dalam acara tersebut memperlihatkan bahwa edukasi pra-nikah tidak dipandang sebagai urusan satu pihak saja. Program luar sekolah ini justru dilihat sebagai gerakan bersama untuk membangun keluarga yang lebih siap sejak awal.

Di kalangan peserta muda, pembekalan seperti ini mulai menarik perhatian karena menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. Kesiapan menikah, menurut kerangka yang didorong dalam program tersebut, bukan sekadar persiapan menuju hari pernikahan, tetapi juga proses membentuk karakter keluarga di masa depan.

Dorongan terhadap sekolah pra nikah pada akhirnya menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan generasi. Dengan memperkuat pengetahuan dan kesiapan sebelum menikah, pencegahan pernikahan dini diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya melahirkan generasi yang lebih kuat.

Source: www.suaramerdeka.com

Baca Juga

Back to top button