Persaingan di pasar smartphone global kembali memperlihatkan dua arah yang sangat berbeda. Di satu sisi, Samsung berhasil menjaga posisi teratas dengan pangsa 22 persen, sementara di sisi lain Apple tetap kuat di kelas premium tetapi belum mampu merebut pimpinan pasar secara keseluruhan.
Omdia mencatat Samsung mengirimkan 65,4 juta unit selama periode tersebut. Angka itu naik sekitar 8 persen secara tahunan dan menandakan pemulihan yang solid di pasar internasional.
Dorongan dari lini flagship dan portofolio luas
Kinerja Samsung banyak ditopang oleh minat konsumen terhadap perangkat flagship. Seri Galaxy S26, terutama varian Ultra, disebut menjadi model yang paling populer dan ikut memperkuat posisi perusahaan di segmen premium.
Selain mengandalkan kelas atas, Samsung juga diuntungkan oleh portofolio produk yang sangat beragam. Perusahaan ini menjual ponsel kelas bawah, perangkat lipat, hingga flagship, sehingga mampu menjangkau lebih banyak kelompok pembeli dan menjaga volume pengiriman tetap tinggi.
Pola itu membuat Samsung lebih fleksibel saat menghadapi perubahan selera pasar. Di tengah persaingan yang ketat, kombinasi produk murah, menengah, lipat, dan premium menjadi modal penting untuk mempertahankan kepemimpinan.
Apple tetap menekan di kelas atas
Apple masih menjadi pesaing terdekat Samsung di segmen premium. Meski berada di posisi kedua, perusahaan asal Amerika Serikat itu tetap memegang tekanan besar di kelas atas dan menjaga persaingan tetap rapat.
Omdia mencatat Apple mengirimkan 60,4 juta unit iPhone dengan pangsa pasar 20 persen. Selisih tipis dengan Samsung menunjukkan bahwa perebutan posisi puncak belum berubah menjadi dominasi tunggal.
Kondisi ini menegaskan bahwa kekuatan Apple masih sangat besar, terutama saat pasar premium menjadi arena utama untuk menarik konsumen bernilai tinggi. Namun, secara total pengiriman, Apple masih tertahan di belakang Samsung.
Peta persaingan lima besar masih ketat
Di luar dua nama teratas, Xiaomi menempati posisi ketiga dalam pengiriman global. Meski tetap berada di papan atas, pengiriman Xiaomi turun 19 persen secara tahunan menjadi 33,8 juta unit.
Oppo dan Vivo menyusul di belakang Xiaomi dengan penurunan yang juga terlihat. Oppo mencatat 30,7 juta unit dengan pangsa 10 persen, sedangkan Vivo mencapai 21,3 juta unit dan pangsa 7 persen.
Data itu menunjukkan lima besar pasar smartphone global masih dihuni para pemain yang saling menekan. Samsung memang memimpin dengan jarak yang cukup aman, tetapi para pesaingnya tetap aktif menjaga tekanan di berbagai segmen.
Asia Tenggara jadi medan penting
Kekuatan Samsung juga terlihat jelas di Asia Tenggara. Perusahaan ini menguasai sekitar 18 persen pangsa pasar pada 2025 dengan total pengiriman 17,9 juta unit.
Keberhasilan tersebut banyak ditopang strategi pemasaran seri Galaxy A. Pendekatan itu membantu Samsung tetap kompetitif di pasar yang sensitif terhadap harga, tetapi tetap menginginkan perangkat dengan fitur lengkap.
Bagi Samsung, Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah penting untuk mempertahankan volume sekaligus memperluas pengaruh merek. Di kawasan ini, persaingan tetap berlangsung keras karena banyak pemain menawarkan strategi harga yang agresif.
Tekanan industri belum benar-benar reda
Walau Samsung berada di puncak, pemulihan pasar smartphone global belum sepenuhnya kuat. Omdia menyebut pertumbuhan pasar smartphone global hanya sekitar 1 persen pada kuartal pertama 2026.
Tekanan lain datang dari harga komponen vital yang tidak stabil, terutama kenaikan harga chip memori. Situasi ini membuat produsen harus lebih berhati-hati dalam menjaga margin sambil tetap mempertahankan pengiriman.
Di saat yang sama, produsen asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo terus memperluas langkah agresif di negara-negara berkembang. Ekspansi itu berpotensi menambah tekanan, terutama di segmen menengah yang menjadi salah satu arena utama perebutan pasar.
Dengan pangsa 22 persen dan pengiriman 65,4 juta unit, Samsung memasuki periode berikutnya sebagai pemimpin yang masih harus menjaga momentum. Tantangan datang dari dua arah, yakni pertahanan Apple di kelas premium dan ekspansi agresif merek-merek China di pasar berkembang.





