Samsung Galaxy S26 masuk ke kelas flagship ringkas dengan bekal yang cukup kuat untuk menarik banyak pengguna. Namun, di balik paket yang terasa matang, ada dua hal yang masih membuat perangkat ini sulit disebut benar-benar aman dari kritik, yaitu kamera dan kecepatan pengisian daya.
Di sisi lain, kombinasi performa tinggi, desain yang lebih rapi, serta baterai yang kini lebih besar membuat Galaxy S26 tetap punya posisi menarik di pasar ponsel Android premium. Dengan harga $899, perangkat ini terlihat sangat serius untuk penggunaan harian, meski Samsung masih memilih langkah yang cenderung konservatif pada beberapa aspek penting.
Desain dibuat lebih halus, bukan dirombak total
Samsung tidak mengubah Galaxy S26 secara besar-besaran. Perusahaan hanya menyempurnakan beberapa bagian, termasuk bodi yang sedikit lebih ramping, layar yang sedikit lebih besar, dan finishing yang terasa lebih halus.
Perubahan paling mudah dikenali ada di bagian belakang. Tiga kamera kini ditempatkan dalam housing berbentuk pill, bukan lagi menonjol langsung dari panel belakang.
Penyusunan ulang ini bukan hanya soal estetika. Ruang tambahan di dalam bodi ikut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas baterai dari 4.000mAh menjadi 4.300mAh.
Ukuran fisiknya memang ikut berubah. Tingginya menjadi 149,6mm dari 146,9mm, lebarnya naik ke 71,7mm dari 70,5mm, sementara ketebalannya tetap 7,2mm dan bobotnya menjadi 167 gram dari sebelumnya 162 gram.
Walau dimensinya sedikit membesar, kesan premiumnya tetap kuat. Galaxy S26 masih memakai frame Armor Aluminum 2, Gorilla Glass Victus 2 di depan dan belakang, serta sertifikasi IP68 untuk ketahanan terhadap air dan debu.
Layar masih kuat, tetapi peningkatannya tidak besar
Panel AMOLED 6,3 inci pada Galaxy S26 tetap menjadi salah satu daya tarik utama. Layarnya tajam, cerah, halus, dan nyaman dilihat dari berbagai sudut berkat refresh rate 120Hz.
Masalahnya, peningkatannya tidak terasa jauh dari generasi sebelumnya. Samsung memang sedikit memperluas panel, tetapi belum menghadirkan lompatan besar yang benar-benar membedakan perangkat ini.
Ada juga catatan pada jenis panel yang masih 8-bit. Di saat banyak pesaing sudah memakai OLED 10-bit, Galaxy S26 masih tertinggal di bagian ini.
Samsung mengandalkan optimasi perangkat lunak untuk membantu akurasi warna dan mengurangi banding. Namun, pendekatan itu tetap belum sepenuhnya setara dengan panel 10-bit asli.
Resolusi layar juga masih FHD+ atau 1080p. Fitur seperti QHD+, Privacy Display, dan lapisan anti-reflektif tetap menjadi milik Galaxy S26 Ultra.
Performa menjadi alasan paling kuat untuk meliriknya
Kalau ada sektor yang paling meyakinkan dari Galaxy S26, performa berada di urutan teratas. Ponsel ini disebut sebagai salah satu perangkat Android tercepat yang tersedia, dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 atau Exynos 2600 tergantung pasar.
Dalam penggunaan sehari-hari, responsnya terasa cepat dan stabil. Aplikasi terbuka tanpa hambatan, multitasking berjalan mulus, dan game bisa dimainkan dengan lancar pada pengaturan tinggi.
Konsistensi ini menjadi nilai penting karena tidak muncul gejala lag atau perlambatan mendadak. Dalam pemakaian normal, masalah panas juga belum sampai mengganggu kenyamanan.
Karena bodinya ringkas, suhu memang bisa naik saat bermain game dalam waktu lama atau saat kamera dipakai secara intensif. Meski begitu, peningkatan panasnya masih tergolong bisa diterima untuk kelas flagship.
Speaker stereo, kualitas panggilan, 5G, dan Wi‑Fi juga berjalan sesuai harapan. Semua ini membuat Galaxy S26 terasa seperti perangkat harian yang benar-benar siap dipakai tanpa banyak kompromi.
Kamera masih belum cukup meyakinkan di semua kondisi
Untuk urusan kamera, Galaxy S26 membawa konfigurasi yang cukup standar di kelas premium. Susunannya terdiri dari kamera utama 50MP, ultrawide 12MP, dan telefoto 10MP dengan zoom optik 3x.
Saat cahaya melimpah, hasil fotonya masih aman dan memuaskan. Kamera utama, ultrawide, telefoto, dan kamera depan mampu menghasilkan foto yang tajam, seimbang, dan punya warna natural.
Mode portrait juga masih layak dipakai untuk kebutuhan umum. Tetapi absennya lensa 5x seperti di varian Ultra membuat fleksibilitas zoom dan foto potret tetap terbatas.
Keterbatasan itu makin terasa ketika cahaya mulai turun. Foto low-light lebih mudah menampilkan noise, tampak kurang berdimensi, dan tetap cenderung lembut meski Night Mode sudah diaktifkan.
Kamera ultrawide juga belum dibekali autofocus. Kondisi ini membuatnya kurang ideal untuk memotret subjek dari jarak dekat.
Untuk video, hasilnya tetap tergolong baik. Fitur Horizontal Lock yang baru membantu menjaga stabilitas saat merekam dengan tangan atau saat vlogging.
Software matang, baterai membaik, tetapi isi ulang masih tertahan
Galaxy S26 menjalankan One UI 8.5 berbasis Android 16. Antarmukanya bersih, kaya fitur, dan mudah dikustomisasi, sehingga memberi nilai tambah besar dalam penggunaan harian.
Fitur AI seperti pengeditan foto, Audio Eraser, dan saran kontekstual ikut memperkaya pengalaman. Samsung juga menjanjikan tujuh tahun pembaruan, yang membuat daya tarik jangka panjangnya semakin kuat.
Daya tahan baterainya ikut meningkat berkat kapasitas 4.300mAh. Dalam pengujian, ponsel ini mampu bertahan seharian penuh, termasuk saat dipakai untuk gaming dan sesi kamera yang panjang.
Namun, pengisian dayanya masih menjadi titik lemah yang sulit dibela. Galaxy S26 hanya mendukung 25W wired charging dan 15W wireless charging, angka yang terasa tertinggal di tengah persaingan flagship.
Waktu isi ulang penuh tercatat sekitar 1 jam 5 menit dari 0 hingga 100 persen. Itu memang sekitar 10 menit lebih cepat dibanding pendahulunya, meski kapasitas baterainya justru lebih besar.
Pada akhirnya, Galaxy S26 tampil sebagai flagship compact yang rapi, stabil, dan sangat kompetitif untuk banyak kebutuhan harian. Tetapi kamera yang belum sepenuhnya meyakinkan di kondisi minim cahaya serta charging yang masih lambat tetap menjadi dua catatan terbesar yang sulit diabaikan.
Source: sammyguru.com




